2 Komoditi Unggulan Jambi Terpuruk, Petani Mulai Tak Mampu Beli Sembako Sejak Harga Karet Rp 7.000/ Kilo

BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi – Kelapa sawit dan karet yang merupakan komoditi unggulan perkebunan Jambi, sejak beberapa bulan terakhir harga kedua komoditi itu merosot tajam.

Selain harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang hanya tinggal Rp 1.200/kilo ditingkat petani, ternyata harga karet juga mengalami penurunan yang sebegitu parahnya. Harga karet di tingat petani saat ini hanya dihargai Rp 7.000/kilo.

Reporter brandanews.co.id, Jum’at siang (25/5-2018) sempat mewawancarai Alek (60) salah seorang toke karet yang selama ini memberi karet petani di Desa Suka Damai, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi.

Seperti dikatakan Alek, dengan harga karet yang sekarang hanya Rp 7.000/kilo, belul – betul menjadi pukulan berat terhadap perekonomian petani, dan tidak heran sekarang banyak petani yang mengadu kedirinya kalau merekapun mengaku sudah mulai kesulitan untum membeli sembako yang harganya kian meroket.

“Sudahlah harga karet terus merosot, malah kondisi itu diperparah dengan terus naiknya harga sembako terlebih menjelang Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti sekarang ini,” kata Alek menceritakan nasib petani yang selama ini produksi karetnya Ia beli.

Ia, kata Alek yang didampingi M Sidik (50) yang merupakan buruh timbangnya itu mengatakan, harga karet ditingkat petani bukanlah permainan toke karet tetapi memang harga karet sekarang yang turun di pasaran internasional.

Sekarang harga karet ditingkat pabrik, dikatakan Alek hanya dihargai antara Rp 8.000/ kilo  s/d Rp 8.200/kilo, dan itupun kualitasnya sudah bagus, yakni karet dengan KK 99 persen. “Sementara karet yang diproduksi petani di daerah ini hanya memiliki KK 50 persen,” ujarnya.

Menurut Ia, turunnya harga karet yang terjadi sekarang ini, Ia memprediksikan akan berlangsung lama mengingat harga karet dipasaran internasional terus merosot

Selain itu, dijelaskan Alek, petani karet tidak saja dihadapkan dengan masalah turunnya harga karet. Malah, petani sekarang dihadapan dengan masalah musim penghujan yang membuat petani tidak dapat menderes.

“Kalau biasanya karet petani yang dibelinya bisa mencapai 1 ton perminggu, tetapi sekarang tinggal hanya beberapa ratus kilo yang bisa dibelinya setiap minggu dari petaninya itu,” kata Ia mengakhiri keterangannya. (wyu/sal/pon)

 

Print Friendly, PDF & Email