Aynur Ropik, Sosok Pengusaha Sukses Berangkat Ditengah Kemiskinan

0
264
Aynur Ropik bersama Isteri dan Ibundanya ketika berada di Tanah Suci Mekkah. Poto ist

BRANDANEWS.CO.ID – Aynur Ropik, Sp, tentu bukanlah siapa – siapa, Ia anak seorang petani miskin yang mengikuti program transmigrasi tahun 1977 ke Desa Rantau Makmur, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung yang sekarang merupakan Kabupaten Tanjung Jabung Timur setelah dimekarkan.

Berdialog, Aynur Ropik dengan Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli. Poto ist

Ketikaitu, Anyur Ropik  yang sekarang telah dikaruniai tiga orang anak, yakni Edwin Alfian, Fahri Alfian, dan Dimas Alfian, atas pernikahannya dengan Juliannita SPd, ketika kedua orang tuanya Mad Rani (alm) serta Maryam nengikuti program tansmigrasi, dirinya masih dalam kandungan sang ibu dan lahir setelah setahun berada di desa transmigrasinya yang sekarang merupakan daerah tanah kelahirnya itu.

“Tidak punya modal apapun, terkecuali ketabahan, karena kemiskinan akan terkalahkan jika ketabahan dalam menghadapi hidup miskin dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan,” kata Aynur Ropik kepada reporterbrandanews.co.idbelum lama ini.

Berpose bersama keluarga Aynur Ropik. Poto ist

AynurRopik, seperti dikatakannya, telah terbiasa memakan nasi jagung, bersekolah tanpa sepatu, bersekolah dengan pakaian robek, bersekolah tanpa bekal yang cukup, termasuk bersekolah tanpa bekal uang saku, tidak seperti kebanyakan anak – anak bersekolah sekarang ini.

“Semuanya serba kekuarangan, tidak saja pangan, sandang, termasuk juga tempat tinggal Ia bersama kedua orang tuanya dan delapan saudara sekandung ketika itu. Sulit bisa terbayangkan hidup ketika itu, dengan apa yang diperoleh sekarang ini,” terangnya.

Bersahabat dengan mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) Aynur Ropik terlihat akrab. Poto ist

Namunkarena tekad sudah bulat, hidup adalah perjuangan, hidup adalah perbuatan, dan hidup mesti berguna untuk sesama, sehingga keinginan untuk tetap bersekolah ditengah kemiskinan yang melilit  bukanlah suatu rintangan untuk mencapai cita – cita yang lebih baik. Berangkat dari situlah, Ia tanamkan landasan hidup untuk bisa menamatkan Sekolah Dasar (SD) di Rantau Makmur, SMP di Rantau Rasau, dan SPMA di Muaro Bungo.

Aynur Ropik dengan salah seorang mitra bisnisnya. Poto ist

Berkat keuletan dan kesuguhan, sebut Aynur Ropik menambahkan,  Ia jadikan modal dasar untuk bisa mendapatkan pendidikan, termasuk mesti menjual telur bebek untuk membiayai kebutuhan hidup, sehingga Ia pun bisa menamatkan pendidikan SI (Sarjana Pertanian) di Universitas Islam Makasar, Sulawesi Selatan.

Menurut Ia, dalam mengarungi bahtera kehidupan di tengah kemiskinan yang dialami, ternyata memiliki kenikmatan hidup yang sesungguhnya, tidak ada kata menyerah, terkecuali harus bekerja – bekerja, dan dari sana pula, sehingga Ia pun menancapkan kariernya di dunia wira usaha karena sebelumnya sempat bekerja di perusahaan agro chemical yang merupakan salah satu perusahaan asing.

Di perusahaan ini, Aynur Ropik berawal hanya di tempatkan sebagai seorang tenaga sales perusahaanagro chemical PT Monagro Kimia asal Amerika Serikat yang bergerak dibidang pestisida, dan belakangan karena dinilai kariernya sangat baik, sehingga Ia pun mendapatkan kepercayaan sebagai regional sales maneger beberapa perusahaan serupa untuk wilayah Indonesia.

Itulah sebabnya, kata Ia, mengapa dirinya sempat menamakan S I nya di Makasar, karena ketika itu bertugas di daerahnya pak Muhammad Jusuk Kalla yang sekarang menjabat Wakil Presiden RI bersama Presiden Joko Widodo.

Setelah itu, Ia pun kembali ke Jambi dengan melanjutkan berbagai kegiatan riset, dan mendirikan sejumlah perusahan pribadi, diantara perusahaannya itu ada yang Ia jadikan distributorpestisida, perusahaanproperty, dan beberapa bisnis yang lainnya.

Alhamdulillah,dari sejumlah usaha yang ada itu, dikatakan Aynur Ropik, apa yang diperoleh tidak Ia artikan sebagai kemewahan, tetapi keberhasilan berbisnisnya dijadikan sebagai mesin penggerak untuk bisa berbagi, membangun silaturrahmi tanpa batas, termasuk lahirnya niatan tulus yang setulus – tulusnya membangun Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Karena saya yakin, kata Aynur Ropik, dirinya bukanlah siapa – siapa. Berangkat dari sebuah kemiskinan tentunya menjadi modal yang sangat besar untuk menguji kejujuran, kebersamaan, dan saling membantu, karena bagaimanapun juga tidaklah suatu keberhasilan dapat dimaknai kalau tidak bisa memberi arti bagi kehidupan orang yang ada disekitar kita. (Noer Faisal)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *