Bank Indonesia Menerobos Kerinci Bangun Sentra Cabai

0
91
Deputi Wakil Kepala Bank Indonesia Cabang Jambi, Meli Ika Permata, bersama warga Desa Pelompak, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, saat melakukan panen perdana Cabai Merah. Foto istimewa

BRANDANEWS.CO.ID – Kerinci salah satu daerah kabupaten di Provinsi Jambi dilirik Bank Indonesia (BI) membangun sentra cabai. Langkah itu, salah satu upaya yang dilakukan pihak BI untuk menekan inflasi dan membantu peningkatan taraf hidup petani yang menetap di kawasan kaki Gunung Kerinci.

Bank Indonesia (BI), melalui program Corporate Social Teslonsibility (bantuan sosial) akan menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra cabai merah. Kawasan Kaki Gunung Kerinci sebelumnya merupakan sentra sayur mayur dan komuditi perkebunan lainnya di Provinsi Jambi.

“Atas dasar itu, melihat kesuburan tanah dan suhunya yang dingin, maka kami menganggap kawasan ini sangat cocok bila dijadikan sebagai sentra cabai merah,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cabang Jambi, Meli Ika Permata kepada wartawan, disaat melakukan panen perdana cabai merah hasil program bantuan dan binaan Bank Indonesia, di Desa Pelompek, Kecamatan Gunungtujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi, Senin, 8 Mei 2017 lalu.

Bantuan program sosial dilakukan Bank Indonesia ini menurut Meli, tidak hanya menggunakan sistem inovasi baru, tapi juga memnafaatkan tehlnologi tepat guna dan berdaya guna serta biaya relatif terjangkau oleh masyarakat.

“Jenis cabai merah yang dikembangkan ini dengan jenis bibit Castilo, terbukti setelah dilakukan uji coba di nenerapa daerah di Provinsi Jambi, memiliki keuntungan, tidak hanya tahan serangan hama juga meningkatkan jumlah produksi jika dibandingkan dengan menggunakan bibit yang biasa dipakai masyarakat pasa umumnya,” ujarnya.

Keunggulan bibit Castilo dibandingkan xengan bisit biasa, tidak hanya pohon cabenya tumbuh lebih tinggi, mencapai satu meter lebih, tapi juga buahnya lebih banyak dan berkualitas.

Petugas pembina dan Penyuluh Bank Indonesia Jambi, Syafii, mengakui nila cabai merah biasa dengan ketinggian batang hanya rata-rata 50 Centimeter dan menghasilkan buah hanya 0’5 – 0,6 kilogram.perbatang, sedangkan menggunakan bibit Castilo, tinggi batang cabai bisa mencapai satu meter lebih.

Tidak hanya batas disitu, produksi buah setiap batangnya mencapai 2 – 3 kilogram, atau cabai biasa hanya mampu mengahsilkan 6 – 8 ton per hektare, sedangkan menggunakan program ini produksi bisa mencapai 18 – 22 ton per hektare.

“Kami juga menggunakan tehnolgi terutama alat untuk membuat saluran air untuk menyiram kebun, dengan istilah Drip, sumber air dari Gunung Kerinci dan anak gunung lainnya dengan memasang pipa dan selang yang dialori langsung ke kebun cabai milik warga. Kami baru membuat kebun percontohan seluas satu hektare milik kelompok tani Al-Kahfi, milik warga Desa Pelopek, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Diharapkan tehnolog ini akan diikuti seluruh para petani disini,” kata Stafii.

Camat Gunung Tujuh, Nazif Idianto, mengakui menyambut baik dengan adanya program ini. “Kita berharap semua petani dari 13 desa yang ada di Kecamatan Gunung Tujuh dan semua petani di Kabupaten Kerinci akan menerapkan sistem baru ini, serta harapan untuk menjadikan kerinci sebagai sentra cabai merah pagi Provinsi Jambi menjadi terwujud,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Ak-Kahfi Desa Pelopek, Sul Basri, mengakui jika bantuan program sosial dari Bank Indonesia, sangat menjanjikan. “Terus terang kami menyambut baik program ini dan kami yakin dapat meningkatkan pendapatan para petani disini,” katanya.

Kebutuhan cabai di Privinsi Jambi sekitar 30 ton perhari. Untuk memenuhi kebutuhan itu, biasanya memasok cabai merah dari daeerah Lampung dan Pulau Jawa. (fik/jul)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *