Bukan Gagal Panen, Tetapi Gagal Total ?

Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli, adalah pilotnya Jambi Tuntas yang diterbangkannya hingga 2021 mendatang. Sekarang memasuki dua tahun usia jabatannya sebagai kepala daerah, sedang diuji membangun negeri yang juga pernah dipimpin Zulkifli Nurdin (orang tua) Zumi Zola Zulkifli, selaku gubernur selama sepuluh tahun.

Harus diakui, anak muda yang satu ini adalah sosok pemimpin yang energik dengan latar belakang pendidikan jebolan Inggris, dan bahkan karier politiknya cukup sukses, berangkat dari seorang aktor, mampu menembus dengan memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tanjungjabung Timur periode 2011 – 2016.

Lantas, setahun sebelum berakhirnya masa jabatannya sebagai bupati, Ia pun melompat mencalonkan diri nyalon Gubernur Jambi bersama wakilnya Fachrory Umar. Lagi – lagi keberuntungan berpihak, Zola, demikian Ia akrab disapa bersama Fachrory Umar yang sebelumnya merupakan Wakil Gubernur Jambi bersama calon incumbent Hasan Basri Agus (HBA) berhasil menang.

Tepatnya, 12 Februari 2016, Zumi Zola Zulkifli dan Fachrory Umar, dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Artinya, sejak itu Zumi Zola Zulkifli titik awal mulai diuji kemampuannya membangun negeri Jambi.

Ia pun (Zumi Zola Zulkifli) mulai bekerja dengan membawa konsep pembangunan Jambi Tuntas. Disinilah titik awal putra mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin menunjukan powernya sebagai seorang gubernur.

Gelombang pergantian pejabat dilingkungan Pemerintah Provinsi Jambi dilakukan, tidak tanggung-tanggung pergantian jabatan itu dianggap maha dahsyat, dan sebagian orang menganggap tak ubahnya seperti badai tsunami. Sekap Zumi Zola inipun jelas disambut hiruk pikuk oleh para tim sukses yang mengaku berjasa memengkan Zumi Zola Zulkifli itu.

Dinas – dinas yang dianggap basah dengan mengelola anggaran negara cukup besar, seperti di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Jambi menjadi sasar pidik pergantian jabatan itu. Kepala Dinas (Kadis)  diganti, Kepala Bidang (Kabid) diganti, dan bahkan pergantian itupun dilakukannya di tingkat tidak saja eselon II, III, tetapi juga terjadi pergantian ditingkat eselon IV.

Dan hebatnya, setelah Dinas PU, menyosor ke dinas lain, seperti Dinas Perkebunan, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan sampai ke jabatan Direktur Utama RSUD Raden Mattaher, tidak juga ketinggalan tenaga honorer yang sudah ada di era Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, ditendang keluar seakan tidak perduli mau sudah berapa lama mengabdi, dan diganti dengan tenaga honorer baru.

Sekarang apa yang terjadi, sejak dilakukannya pergantian pejabat termasuk dengan jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) yang sebelumnya dijabat Ridham Priskab, sekarang menuai masalah, tidak saja dianggap tidak berjalannya roda pembangunan yang berujung rendahnya penyerapan anggaran. Tetapi juga, soal jabatan ini belum juga kunjung tuntas diurus, dan malah gelombang cucuk cabut setelah dianggap gagal, atau salah tempat tidak luput menjadi perhatian masyarakat.

Apalagi, dampak dari pergantian pejabat menjadikan Visi dan Misi Jambi Tuntas yang digaung-gaungkan Zumi Zola Zulkifli kepada masyarakat saat berkampanye, menjadi bola panas yang cukup liar menggelinding yang akhirnya menyulut protes yang dilakukan lewat aksi mahasiswa.

Apakah Zumi Zola Zulkifli sudah dapat dianggap  gagal total dalam memimpin Jambi ? Pasti jawabnya belum tentu, karena jabatan Zumi Zola Zulkifli baru berakhir 2021 nanti. Tetapi yang jelas, Zumi Zola sudah “memanen” paling tidak keberhasilannya mengganti pejabat dengan jumlah yang tidak sedikit. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email