Bupati Sibuk Nyalon Gubernur Jambi 2020, Ini Kata Taufik Yasak: Daerahnya Saja Dinilai Ombudsman Buruk

BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi – Taufik Yasak, mantan Ketua Ombudsman Jambi mengungkapkan, sejumlah bupati yang sekarang sudah sibuk – sibuknya ingin nyalon Gubernur Jambi 2020, justru daerah yang dipimpinnya dinilai buruk oleh Ombudsman Jambi.

Seperti Kabupaten Sarolangun, kata Taufik Yasak kepada reporter brandanews.co.id, Kamis (11/7-2019), selama dua periode dipimpin Bupati  Cek Endra, sampai saat ini masih diberi label warna kuning, dan itu artinya daerah itu buruk dalam kepatuhan standar pelayanan publik.

Hal serupa juga, terang Taufik Yasak, seperti Kabupaten Tanjungjabung Barat yang dipimpin Bupati Safrial M Siregar, Kabupaten Tebo yang dipimpin Bupati Sukandar, sama daerah ini masih berlabel warna kuning yang artinya sama buruknya dengan Kabupaten Sarolangun yang dipimpin Cek Endra itu.

Sedangkan Kota Jambi, lanjut Taufik Yasak, walaupun Kota Jambi sudah masuk dalam tanda kutif berwarna hijau, tetapi Ia sudah mengingatkan kepada Walikota Jambi Sy Fasha untuk tidak maju di pencalonan Gubernur Jambi 2020, karena daerah ini belum dapat dikatakan berhasil selama kepemimpiannya.

“Ombudsman Jambi akan terus mengawasi daerah – daerah itu karena label daerah itu berwarna kuning yang artinya masih jauh dari harapan,” terang Taufik Yasak.

Sekarang ini, dijelaskan Taufik Yasak, baru hanya Kabupaten Batanghari yang dipimpin Bupati Syahirsah, Kabupaten Bungo yang dipimpin Bupati Mashuri yang sudah berlabel waqrna hijau, tetapi justru kedua bupati itu tidak memperlihatkan dirinya untuk maju di busra calon Gubernur Jambi.

“Mestinya, para bupati yang daerahnya masih diberi label warna kuning oleh pihak Ombudsman lebih berkonsentrasi memperbaiki daerah itu selama kepemimpinan bukannya malah sibuk nyalon Gubernur Jambi,” tegasnya.

Ada satu tanggapan saya, kata Taufuki Yasak, Cek Endra selama menjabat 2 periode ini secara fisik saya liat biasa – biasa saja, yang kedua tidak ada yang signifikan mulai dari pembangunan di kotanya,     hotel – hotel, jalan, maupun income perkapitanya juga tidak ada yang meningkat di sarolangun itu.

Kita buktikan dengan adanya playanan publiknya serta standar monitoringnya masih banyak yang belum terpenuhi, nah kesempatan setiap kepala daerah kecuali yang sudah masuk zona hijau seperti Kota Jambi pun masih menjadi tanda kutip, apalagi sarolangun yang masih zona kuning.

“Saya ini mantan ketua ombudsman kalau mereka jeli harus nya mereka bisa sharing berkerjasama contoh kepala daerah sarolangun yang ingin maju pada pilgub nanti masih ada waktu untuk berbenah diri selama satu tahun kedepan menjelang ombudsman masuk kedaerah mereka, karna setiap tahun sebelum daerah itu menjadi zona hijau ombudsman akan melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Tanjung jabung Barat juga sama harus seperti itu, kalau saya bisa sarankan kepada mereka kepala – kepala daerah yang ingin maju mulai dari sekarang benahi dulu kabupaten masing – masing , tunjukan kinerja yang baik bukan hanya sekedar penghargaan WTP.

“Jangan ini sampai di remehkan karna ini merupakan pembuktian performa seorang kepala daerah,” kata Taufik Yasak.

Fenomena tentang kepala  daerah yang giat melakukan sosialisasi keluar daerah nya adalah suatu fenomena yang dianggap ingin mendapatkan sesuatu yang lebih.

Lembaga ombudsaman sudah beberapakali memeriksa akan tetapi daerah – daerah ini tidak naik – naik baru 4 yang zona  hijau kotajambi, muaro jambi, batanghari, muaro bungo, nah malah yang keempat kabupaten ini pun tidak maju – maju kecuali kota jambi. (wahyuputra/ jul/sal)

 

Print Friendly, PDF & Email