BWSS VI Wujudkan Program Nawacita Presiden Jokowi, Bidik Daerah Rawa Potensi Pertanian dan Perkebunan

Kepala BWSS VI Nurfajri ketika memberikan penjelasan terkait seluruh kegiata pembangunan yang dilaksanakan di Jambi kepada Anggota Komisi V DPR-RI belum lama ini. poto/sal

BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi – Mewujudkan swasembada pangan yang merupakan salah satu program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi), Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU/PERA), bidik daerah rawa di Provinsi Jambi untuk dijadikan basis pertanian dan perkebunan.

Tentu, langkah itu harus diwujudkan BWSS VI dengan membangun infrastruktur yang kuat, salah satunya melaksanakan kegiatan pembangunan rehabilitasi jaringan rawa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) yang merupakan daerah rawa terluas di Provinsi Jambi.

Gubernur Jambi Zumi Zola saat melaksanakan panen raya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.poto/ist

Sejak tahun 2016 saja, BWSS VI telah dapat mewujudkan kegiatan pembangunan rehabilitasi jaringan rawa yang tersebar di empat kecamatan, dengan luas 12.500 hektar, dan sekarang keempat daerah itu, yakni Kecamatan Sadu, Kecamatan Nipah Panjang, Kecamatan Rantau Rasau, Kecamatan Mendahara, mampu meningkatkan produksi pangan menuju swasembada, dan disamping itu daerah ini juga melonjak hasil produksi perkebunan, seperti kelapa dalam dan kelapa sawit.

Semua mata sekarang ‘terbelalak’ melihat keberhasilan pembangunan rehabilitasi jaringan rawa yang disulap BWSS VI dari lahan tidur menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang produktif, seperti di Daerah Rawa (DR) Sungai Lokan – Sungai Itik seluas 1.700 hektar, Daerah Rawa (DR) Nipah Panjang seluas 2800 hektar, Daerah Rawa Simpang Datuk seluas 2.200 hektar, Daerah Rawa (DR) Pamusiran Trimulyo seluas 2.200 hektar, Daerah Rawa (DR) Mendahara seluas 1.400 hektar.

Gubernur Zola bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman melaksanakan panen kedele di Tanjung Jabung Timur. Poto/ist

Bupati Tanjung Jabung Timur, Romi Haryanto mengakui kegiatan pembangunan rehabilitasi jaringan rawa di daerahnya yang dilaksanakan BWSS VI sejak tahun 2016, telah berhasil membangun lahan tidur menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang menghasilkan ekonomi tinggi bagi masyarakat.

Ini fakta, terang Romi Haryanto, berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2017, angka kemiskinan di daerah ini berhasil di tekan hingga 2 persen, dari 14.17 persen tahun 2016 menjadi 12.67 persen tahun 2017.

Keberhasilan menekan angka kemiskinan di daerahnya itu, dikatakan Romi Haryanto, dikarenakan menggeliatnya masyarakat mengelola potensi alamnya secara khusus di daerah rawa yang merupakan lahan tidur selama ini menjadi lahan produktif, dan keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan BWSS VI.

Reporterbrandanews.co.id melaporkan, reaksi positif yang dirasakan masyarakat di Kabupaten Tanjungjabung Jabung Timur, terkait pembangunan jaringan rawa yang dilaksanakan BWSS VI, geliat mengelola lahan pertanian maupun perkebunan yang dilakukan petani cukup tinggi, dan terbukti seperti yang dilakukan petani di Desa Simpang Datuk, Kecamatan Nipah Panjang.

Salah satu titik pembangunan tanggul yang dilaksanakan BWSS VI di Tanjung Jabung Timur.poto/sal

Desa Simpang Datuk, merupakan salah satu daerah yang masuk dalam program unggulan Pemerintah Kabupaten Tanjung

Jabung Timur, dengan “Gerakan Tanam Padi Dua Tahun Sekali”, daerah ini memiliki luas lahan persawahan hingga mencapai 600 hektar, dengan hasil produktifitas padi dapat dihasilkan 4,7 ton – 5,2 ton per hektar.

Sedangkan di Desa Sungai Itik, seperti diakui Kepala Desa Zainir Havies, dengan dilaksanakannya pembangunan tanggul oleh pihak BWSS VI, telah dapat menyelamatkan lahan perkebunan dari hantaman air laut pasang surut sehingga sekarang hasil produksi perkabunan meningkat hingga 75 persen.

Produksi kelapa sawit meningkat tajam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur setelah areal perkebunan tidak lagi terendam banjir pasang surut. Poto/sal

Kenyataan serupa yang dirasakan, seperti diakui Kepala Desa Sungai Cemara Agustamin, produksi perkebunan masyarakat juga mengalami peningkatan hingga 40 persen, dan ini tentunya setelah lahan tidur yang selama ini dapat dikelola setelah adanya kegiatan pembangunan BWSS VI itu.

Selanjutnya juga diakui, Lurah Sungai Lokan Islamuddin, dampak positif terhadap kehidupan petani yang dihasilkan dari kegiatan pembangunan BWSS VI, produksi perkebunan di daerah yang dipimpinnnya meningkat hingga 25 persen.

Dan tidak hanya itu, malah BWSS VI dalam kegiatan pembangunan yang dilaksanakannya di Desa Simpang Datuk, telah berhasil mengangkat desa ini menjadi desa andalan di bidang pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Daerah ini, sekarang memiliki luas areal persawahan mencapai 775 hektar yang terletak satu hamparan, dengan hasil sekali produksi panen beras mencapai 5.000 ton.

Berkah lain yang dihasilkan dari pembangunan yang dilaksanakan BWSS VI di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sangat dirasakan petani di Kelurahaan Nipah Panjang, dengan produksi hasil pertanian dan perkebunan meningkat hingga 20 persen – 50 persen.

Gairah petani terus tumbuh di tengah meningkatnya produksi kelapa dalam. Poto/sal

Desa Trimulyo, tercatat hasil produksi perkebunan di daerah ini meningkat antara 20 persen – 30 persen, sedangkan di Desa Bakti Idaman (Kecamatan Mendahara), hasil produksi perkebunan sama meningkatnya hingga 30 persen – 40 persen.

Akhirnya, harus diakui upaya yang dilaksanakan BWSS VI membangun jaringan rawa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menjadi berkah bagi masyarakat petani di daerah itu. Bahkan, daerah inipun diakui Pemerintah Pusat sebagai daerah lumbung pangan, dengan diberikannya penghargaan tingkat nasional karena dianggap mampu mencapai target produksi pangan nasional beberapa waktu lalu. (noer faisal/pon/fri)

Print Friendly, PDF & Email