Drama Politik ‘Membara’ di Pilwako Jambi

Tahun 2018 mendatang, 3 daerah di Provinsi Jambi, yakni Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin dan Kota Jambi melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak.
 
Kota Jambi, terlihat lebih berbeda situasi politiknya dibandingkan Kabupaten Merangin maupun Kabupaten Kerinci. Sebab, sekarang saja sudah terlihat memanas ‘membara’ drama politik yang berkembang di tengah rakyat yang bakal memilih.
 
Media sosial (Medsos) sepertifacebook (Fb)dijadikan alat propaganda yang berada ditataran atas dibandingkanTwitter,Instagram, maupun aplikasi medsos lainnya. Sehingga jangan heran, percakapan saling hasut, saling ejek, saling mempengaruhi menjadi warna tersendiri di media sosial itu.
 
Drama politik ‘Membara’ seperti judul diatas tadi, kondisinya jauh berbeda dibandingkan lima tahun silam ketika pasangan Sy Fasha – Abdullah Sani menyatu dan berhasil memenangkan Pilwako melawan kekuatanincumbent Dr Bambang Priyanto – Sum Indra.
 
Tetapi sekarang, pasanganincumbent Sy Fasha – Abdullah Sani sudah lama pecah kongsi, sedangkan penyebabnya hanya Walikota dan Wakil Walikota itulah yang paling mengetahui sebab musababnya.
 
Namun terlepas dari kondisi itu semua, rakyat di Kota Jambi masih kuat dalam ingatannya ketika pasangan calon penantang pasanganincumbent  tahun 2013, ketika berkampanye dilapangan Honda Thehok, Kota Jambi, secara gamblang disampaikan dalam orasinya mengungkapkan, kalau mereka terpilih tangga yang digunakan mereka untuk naik tetap berada disitu supaya yang lain juga bisa naik bersama mereka.
 
Tidak hanya itu, pasangan yang sekarang dipastikan ‘bertempur’ di Pilwako Jambi 2018, dengan pengakuan sejatinya dengan membeberkan kalau dari salah satu mereka mengaku masih punya anak yang kecil – kecil sehingga tidak mungkin harus sibuk ngurusi proyek, dan masih banyak lagi janji politik itu.
 
Setelah lima tahun mereka berkuasa, dan sekarang mulai sibuk mencari simpati rakyat, sampai – sampai sengaja heboh soal perolehan gelar sarjana sebagai wujud pernyataan sikap, kalau Ia mengaku sebagai pemimpin yang pintar, cerdas. Apalagi, dari berbagai pengakuan sebelumnya kalau kegiatan yang selama ini dilaksanakannya menggunakan uang pribadi. Hebat bukan ?
 
Tetapi emangnya rakyat bodoh, rakyat itu emangnya goblok, mau ngomong apa silahkan, mau ngaku pintar silahkan, mau ngaku paling hebat ngeluari duit pribadi itu bukan urusan rakyat.
 
Sebab rakyat butuh hidup sejahtera, butuh hidup yang tidak terbebani pajak mahal yang lahir atas peraturan walikota (Perwal) dan sebagainya. Ingat, jangan harap kami memilih kalau bukan pemimpin yang benar – benar berpihak kepada rakyat, demikiannya pasti seperti itu.
 
Akhirnya, mari kita saling mendo’akan sebagai rakyat yang akan memilih pemimpinnya di Pilwako Jambi 2018, semoga tidak terjatuh akibat batu yang sama.  (***)
Print Friendly, PDF & Email