Investasi Besar, Raja Salman Lebih Memilih China Ketimbang Indonesia

0
72

BRANDANEWS.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku Indonesia masih berada di level 91 dalam memberikan kemudahan investasi. Kondisi itulah yang akhirnya harus dikoreksi, mengapa akhirnya Arab Saudi lebih memilih China dan itu dibuktikan dengan besarnya investasi itu ketimbang di Indonesia.

Joko Widodo memandang perlu ada introspeksi atas kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke China yang mendatangkan nilai investasi lebih besar dibanding saat menyambangi Indonesia.

Saat mengunjungi Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Kamis (13/4) lalu, Jokowi sempat menyatakan sedikit kekecewaannya atas nilai inverstasi Raja Salman.

“Itu kan kita sampaikan dalam forum yang santai dan cair, guyonan. Tapi apapun, memang investasi di Tiongkok lebih besar dan itu harus menjadi instropeksi kita, koreksi kita, kenapa kita tidak bisa meraih jumlah yang lebih,” kata Jokowi usai peresmian Masjid KH Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat, Sabtu (15/4).

Jokowi menganggap banyak faktor yang mempengaruhi nilai investasi rombongan Arab Saudi lebih besar ke China dibandingkan Indonesia. Salah satu faktor yang harus dibenahi Indonesia adalah kemudahan berusaha dan kepastian hukum.

“Kemudahan berusaha di Indonesia yang masih rangking 91, masalah kepastian hukum yang mungkin juga masih perlu diperbaiki, banyak hal,” kata dia.

Jokowi pun yakin, jika hal-hal tersebut dapat menjadi bahan introspeksi dan diiringi perbaikan, maka Indonesia akan siap menerima investasi yang besar layaknya yang diterima China.

Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud selama 13 hari di Indonesia sebelumnya mendatangkan investasi yang tak sebanding dengan investasi konglomerat tersebut ke China selama dua hari.

Investasi Raja Salman di Indonesia hanya mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp89 triliun (kurs Rp13.300), sedangkan investasinya ke China mencapai US$65 miliar atau sekitar Rp870 triliun.

Dikutip dari detikfinance, investasi Raja Salman ke China antara lain mencakup nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan raksasa Arab Saudi, Aramco dan perusahaan China Norinco untuk pembangunan kilang di China. Kemudian, kesepakatan pengembangan proyek petrokimia antara SABIC (Saudi Basic Industries Corp) dan Sinopec.

Padahal, Indonesia sebelumnya berharap dapat memperoleh investasi dari kunjungan tersebut sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp332 triliun. (jul/res/les)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *