Kabinet ‘Sorong’ Pitih

Saya, dipastikan tidak, tidaklah lahir di negeri ini. Tetapi, bukanlah berarti saya tidak mencintai negeri ini. Bagaimana tidak, anak – anak saya pun lahir dan di besarkan di negeri ini, sedangkan janji pun sudah dilabelkan untuk mati disini.

Negeri sebelah, berkelang satu daerah dari tempat saya di lahirkan di Medan, Sumatera Utara. Sekarang negeri ini, sedang kacau balau, bukan karena peperangan yang menghantamnya. Tetapi, sayapun tertawa karena tidak menyangkanya kalau rakus, serakah, tamak, dan seterusnya, bukanlah berarti milik orang miskin semata.

Sosok pemimpin, tak pula harus terus menerus diangungkan hanya karena sosoknya yang ganteng, latar belakang dari kalangan orang berada, dianggap mampu memimpin negeri dengan tidak serakah teramat sangat.

Pemikiran, terkadang sepertinya jauh api dari panggang. Bagaimana tidak, ketika sikaya yang memimpin, siganteng yang memimpin, lagi – lagi kenyataan itu bukanlah satu jaminan untuk bisa membawa rakyat yang dipimpinnya menjadi hidup sejahtera.

Onde mande, demikian saya mengaktualisasikan kenyataan di negeri sebelah yang sedang dipimpin anak muda, berlatar belakang orang kaya dan terhormat, ternyata, kebiasaan main ‘sorong’ pitih (duit) untuk sebuah jabatan menjadi dianggal hal yang patut dikedepankan.

Ceritanyapun akhirnya menjadi kemana – mana. Misalnya, satu lembaga pemerintah yang notabene mengurusi soal pembangunan infrastruktur, jalan dan lainnya. Entah siapa yang mengajarinya, sehingga pejabat di lembaga itu terpaksa harus memasang jaring rapat, dengan dalil penerimaan satu pintu. Maaf, saya akan gamblang mengatakan itu pungutan uang haram.

Bahkan, naifnya di tengah keserakahan dan kerakusan itu justru bagi hasil karena kerja keras mengurisi proyek , sampai – sampai biaya untuk membiayai ATK. Tau, ATK (Alat Tulis Kantor) dikemplang hingga 30 persen dan tetap dicairkan seratus persen itulah hebatnya, ketika yang muda, yang ganteng memimpin negeri sebelah.

Apakah pemimpin itu sadar, secara abstrak terpaksa mesti diungkapkan, sehingga harapan agar pemimpin serakah itu bertaubat karena azab Allah SWT akan Ia terima kalau kezholimannya sudah melebihi ambang batas. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email