Kebaikan Pemimpin Lahir Menjelang Pilkada

Bermacam ragam lakon tak ubahnya sedang berperan memainkan ‘wayang orang’. Itulah hebatnya pemimpin maupun calon pemimpin, baik yang sedang berjuang mempertahankan tahta maupun yang sedang mengejar ngejar jabatan itu.

Tidak saja, untuk persoalan tahta jabatan presiden atau wakil presiden, kebaikan lahir secara mendadak kepada rakyat, dan itu juga terjadi setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Entah itu, Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub), tetapi juga perilaku serupa juga tak berbeda di Pilkada Bupati dan Wakil Bupati, maupun di Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwako).

Tahun 2018 mendatang, Provinsi Jambi akan melaksanakan Pilkada dan Pilwako di tiga daerah, seperti Kota Jambi, Kabupaten Merangin, dan Kabupaten Kerinci. Lantas, lakonnya tak ubah seperti sedang bermain wayang. Betapa tidak, kebaikan kepada rakyat spontan dilakukan tidak saja bagi calon incumbent maupun calon pendatang baru yang bersiap dalam pertarungan kepala daerah itu.

Terkadang, melihat lakon – lakon itu, rasa geli dihati ada, rasa geram juga ada, dan rasa keinginan untuk menghina mereka itu juga ada. Artinya, membaur mejadi satu ketika lakon itu dimainkan dalam upaya mempertahankan tahta atau yang sedang mengejar jabatan karena merasa enak dan ketagihan untuk mengelola uang rakyat dengan kekuasaan itu.

Lihat saja seperti yang terjadi sekarang ini, di tengah menghadapi pesta demokrasi tahun 2018 itu, bantuan kepada rakyat mengalir sebegitu derasnya, ada yang memberikan bantuan kursi roda, ada yang memberikan biaya pengobatan, ada yang memberikan biaya pendidikan, ada ceritanya memberikan bantuan membangun rumah warga miskin, dan bermacam bantuan lain yang tujuannya mencari simpati rakyat.

Padahal, kebaikan semu yang ditunjukan mereka kepada rakyat bukanlah bentuk suatu keikhlasan yang semestinya tidak menjadi pedoman bagi rakyat untuk memilih mereka. Sebab apa ? kebaikan dengan cara seperti akan terjawab berbalik ratusan derajat setelah mereka terpilih, jangankan akan kembali memberi kita sebagai rakyat menagih janjinyapun sudah dianggap melawan dan mesti dibinasakan mereka.

Seperti contoh, ketika belum terpilih janji politiknya macem – macem, jalan akan bagus, ekonomi rakyat akan ditingkatkan, kesehatan masyarakat dijaga, dan banyak lagi janji mereka. Lantas, kenyataanya kita sebagai rakyat sudah merasakannya sendiri, untuk mampu melakukan penyerapan anggaran demi kepentingan rakyat pun terbaikan, dan karena itu jangan harap kalau sudah terpilih akan datang lagi bantuan – bantuan semacam itu.

Ingat, tahun 2018, Jambi ada tiga daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah, bukan kursi roda yang kita butuhkan. Rakyat hanya butuh dari apa yang dijanjikan mereka sebelum terpilih, dan untuk itu kita harus berhati – hati dengan bantuan semu yang sebenarnya bantuan itu sulit terukur keikhlasannya. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email