Lacak Riwayat Membungkus Gaung Kegagalan

Kalau sebelumnya, Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli tersandera gagal dalam kepemimpinnya, seperti rendahnya penyerapan anggaran, carutmarutnya kondisi infrastruktur jalan maupun jembatan sehingga tidak lagi dapat diandalkan sebagai urat nadi perekonomian, dan belum lagi adanya tudungan seperti benang kusut soal penempatan pejabat maupun soal lelang jabatan yang juga tak kalah disoroti di era kepemimpinan anak mantan Gubernur Jambi dua periode Zulkifli Nurdin itu.

Tetapi sekarang anehnya, riwayat kegagalan yang dianggap selama kepemimpinan Zumi Zola Zulkifli itu, soal keluhan jalan rusak, soal jebatan yang rusak, penempatan pejabat yang dianggap menyalah, lelang jabatan yang bernuansa kepentingan kelompok – kelompok tertentu, dan soal rendahnya penyerapan anggaran, seakan cerita itu hilang bak ditelan bumi.

Sekarang ini, malah yang dihebohkan bukan lagi untuk kepentingan rakyat melainkan cerita kain pengikat kepala yang disebut ‘LACAK’. Lacak, di era Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli begitu diprimadonakan mesti dipakai terlebih bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun tenaga honorer di instansi pemerintah. Bahkan, dilingkungan Pemerintah Provinsi Jambi wajib menggenakan Lacak.

Zumi Zola Zulkifli, untuk soal Lacak mesti diakui sebagai tokoh yang mengembangkannya menjadi sebuah trand dilingkungan pemerintahan. Dan tidak tanggung-tanggung, pastinya kita akan kesulitan untuk bisa menemukan Zola tanpa mengenakan Lacak karena Gubernur Jambi itu yang sudah memulai memerintahkan wajib menggenakan Lacak itu sendiri.

Lantas, cerita Lacak menjadi ‘cetar membahana’ seperti perkataan yang selalu digunakan artis Syahrini. Apalagi, sejak Lacak itu menjadi trend di Jambi yang dikumandangkan Zumi Zola Zulkifli, perdebatan soal riwayat Lacak menjadi tak kalah menariknya. Artinya, ada pro dan kontra soal pemakaian Lacak ditengah adanya instruksi Gubernur Jambi Zumi Zola untuk mengenakan Lacak itu.

Soal Lacak, perdebatan tentang riwayat Lacak menjadi guratan jari tangan di media sosial, tidak terkecuali di Facebook, media online, sedangkan persoalan kepentingan rakyat yang selama ini ‘meronta ronta’, seperti kerusakan jalan di Sungai Bahar, kerusakan jalan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, dan kerusakan ruas jalan di hampir seluruh daerah di Provinsi Jambi sudah tidak lagi menggema apalagi untuk difikirkan.

Begitu juga soal rendahnya penyerapan anggaran pembangunan seperti dikatakan Ketua DPRD Provinsi Jambi Cornelis Buston, penyerapan anggaran pembangunan baru mencapai 5 persen ketika itu, dan belum lagi soal penempatan pejabat yang dianggap tidak profesional maupun soal lelang jabatan yang sampai saat ini belum dapat tertuntaskan.

Namun, secara serentak riwayat kegagalan pembangunan Jambi yang dikuatirkan akan terjadi di era Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli, ternyata sebegitu cepatnya sirna, dan anehnya tuntutan rakyat terhadap Pemerintah Provinsi Jambi menjadi tidak bergaung lagi karena soal perdebatan Lacak yang menuntut riwayat Lacak itu sendiri menjadi sengit diperdebatkan, seperti di media sosial saat ini.

Akhirnya, saya pun menjadi teringat, tidak sedikit pengemudi bus jarak jauh yang mengenakan pengikat kepalanya dengan kain handuk, jelas bukan  Lacak seperti yang diperdebatkan, karena pengemudi bus itu mengaku kain yang diikat dikepalanya sebagai penahan rasa pening dan ngantuk. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email