“Melawan Cacing Perut”

MENENTUKAN  sikap, dan selanjutnya bersikap untuk satu pilihan ada kalanya mudah dilakukan. Namun, persoalan sikap yang awalnya dilatarbelakangi soal menentukan sikap seperti tujuannya, tidaklah mudah begitu saja dinapikan, karena untuk bisa melakukan itu butuh banyak pengorbanan, salah satunya melawan cacing perut.

Maksud melawan cacing perut, menentukan sikap, dan selanjutnya bersikap sebagai pilihan, bisa begitu saja terkalahkan karena hanya tidak mampu menahan rasa lapar karena cacing perut yang terus berkecamuk, sehingga perubahan dari menentukan sikap, dan selanjutnya bersikap dengan mudahnya berubah – ubah.

Penomena seperti ini dalam kehidupan, tidak saja untuk urusan menentukan sikap politik, menentukan pilihan beragama, kekalahan melawan cacing perut, menjadi tidak mengherankan, kalau sebelumnya beragama menjadi tidak lagi beragama. Kalau yang tadi memilih siapa, lantas esoknya berubah pilihan ke yang lain, merupakan bukti kekalahan melawan cacing perut yang berujung kelaparan.

Soal kelaparan dan tak pernah merasa kenyang, sebenarnya hanyalah dikarenakan tidak mampunya seseorang untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Lantas, akibat nafsu yang menguasai kehidupan seseorang sehingga cacing perut seperti yang dimaksudkan lebih sering berontak yang akhirnya menentukan sikap, dan selanjutnya bersikap itu menjadi hal yang biasa karena perubahannya sendiri.

Alhasil, karena ketidakmampuan melawan cacing perut pastinya yang menjadi korban dalam lakonnya,  adalah orang – orang disekitarnya yang memang berharap bisa mendapatkan sikap kesatria yang mestinya bukanlah diberikan oleh orang yang kalah melawan cacing perutnya sendiri.

Karena itu, siapapun mesti berhati – hati menghadapi orang – orang yang kalah karena tidak mampunya melawan cacing perut. Sebab apa ? Orang yang tak tahan menghadapi kelaparan, secara otomatis sikapnya akan berubah – ubah, sehingga tidak perlu diherankan orang seperti ini yang menjadi pemenangnya adalah cacing perutnya sendiri dan bukanlah dirinya.

Akhirnya, perlu harus diwaspadai, termasuk dalam urusan politik, dalam mengusung seseorang karena cacing perut terus menggonda untuk bisa mengalahkan dalam menentukan sikap, dan bersikap karena LAPAR………….. (***)

Print Friendly, PDF & Email