Menang Pilkada Bukan Lotre

TIDAK sedikit sekarang kepala daerah yang berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seperti kesurupan. Seperti contoh, pergantian pejabat dilakukan secara masif, dan terkesan balas dendam dengan kebijakan kepala daerah sebelumnya.

Selain itu, kemenangan Pilkada yang celakanya lagi sepertinya dijadikan alat pengembalian ongkos politik yang sudah dikeluarkan selama ini, sehingga membuat ‘jaring rapat’ untuk menangguk sumber pendapatan tak resmi yang berpotensi korupsi, kolusi dan nepotisme dari sektor pembangunan, seperti paket – peket proyek yang dikerjakan, baik bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Beginilah hebatnya ketika kemenangan Pilkada itu dianggap sebagai kemenangan bermain lotre, seperti judi toto gelap (togel) dan lain sebagainya. Padahal semestinya, kemenangan Pilkada itu, entah Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, haruslah disadari sebagai kemenangan pesta demokrasi bersama rakyat yang memilih, dan bukan kemengan Pilkada itu hanya semata – mata kemenangan tim sukses dan politik uang (money politik).

Padahal, kalau kita mau jujur mengakuinya, kemenangan Pilkada dalam pesta demokrasi itu, janji – janji politik yang diperdengarkan kepada rakyat sejak melakukan sosialisasi sampai berkampanye, harus diwujudkan sebagai bentuk tanggung jawab kepala daerah terpilih membangun negeri yang dipimpinnya.

Rakyat butuh itu, pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lainnya merupakan impian dan harapan orang yang memilih kepala daerahnya. Namun naifnya, kemenangan Pilkada itu sepertinya berujung dengan penistaan seperti yang ter;ihat dibanyak daerah sekarang ini.

Sehingga tidak menjadi heran, kegaduhan, kekuatiran pasca pergantian kepala daerah lebih membuming, ketimbang keinginan rakyat dapat terwujudnya pembangunan di daerahnya, ketimbang samban hari – saban minggu mendengar cerita banyaknya pejabat yang diganti, dan akhirnya soal pergantian pejabat terus berlanjut selama periode kepemimpinan kepala daerah itu.

Dan menariknya disisi lain, justru kemenangan Pilkada yang terkesan seperti menganggap kemengan lotre semakin disibukan dengan berbagai kegiatan serimonial, berpoto selfie sebagai bentuk pencitraan bukan sebagai bentuk kepala daerah yang sedang sibuk membangun negeri untuk tujuan mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Ingat, dan tak ada yang perlu mesti marah soal ini, jabatan kepala daerah, seperti Gubernur, Bupati, dan Walikota, bukanlah jabatan seperti layaknya artis, atau aktor yang sedang berlakon, karena jabatan kepala daerah itu menuntut kerja nyata seperti yang dijanjikannya kepada rakyat, karena kemenangan Pilkada bukan kemenangan lotre. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email