Menangkan Pilkada Lewat Politik ‘Papan Kembang’

Setiap menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) entah itu, Pilkada Gubernur, Pilkada Bupati, ataupun Pilkada Walikota, persoalan ‘papan gembang’ sebagai wujud partisipasi turut mengucapkan itu seakan beradu cepat, tidak saja dilakukan calon incumbent tetapi juga oleh calon yang siap bertarung.

Itulah hebatnya, soal papan kembang, ucapan kematian, ucapan pernikahan, ucapakan khitanan anak, dijadikan sasaran bidik yang dilakukan para kandidat calon kepala daerah untuk mengambil simpati masyarakat.

Soal ukuran papan kembang, ini juga menarik untuk disikapi atau ditela’ah. Misalnya, kalau yang punya hajatan, atau yang sedang terkena musibah itu orang yang berpengaruh di masyarakat, pasti papan kembang yang dikirimkan itu panjangnya ngak ketolongan. Namun sebaliknya, kalau orang yang dimaksudkan pegaruhnya biasa- biasa saja di masyarakat pasti papan kebangnya kecil.

Inilah persoalan papan kembang yang dijadikan objek sasaran untuk memenangkan Pilkada yang sedang diperebutkan itu. Tetapi jangan heran, kalau sudah terpilih seperti biasanya masyarakat tidak jarang kembali protes, atau mengrutu karena kepala daerah yang dimenangkanya itu tidak hadir dalam undangan yang disampaikan mereka.

Cerita papan kembang itulah hebatnya, terkadang kita sebagai masyarakat spontan terbuai karena mendapat kiriman papan kembang, dan apalagi kalau yang memberikan papan kembang itu merupakan calon incumbent.

Seorang gubernur, seorang bupati, atau seorang walikota mencatatkan namanya di papan kembang yang dikirimkannya kepada kita, dan kita juga saat itu seolah – olah punya kasta klas satu di tengah  masyarakat karena mendapat kiriman papan kembang yang maknanya belum bisa terukur secara manfaatnya.

Untuk itu, tak salah kalau kita mesti mewaspadai soal kiriman papan kembang di tengah menghadapi Pilkada 2018 mendatang. Ingat papan kembang itu merupakan solusi biaya  murah memenangkan Pilkada bagi calon kepala daerah, sedangkan bagi kita  belum terukur manfaat dari papan kembang itu sendiri. Semoga kita tidak menjadi manusia yang ‘pongah’ karena hanya papan kembang. (***)

Noer Faisal

Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email