Mengutamakan Kepentingan Perut, Jangan Ngomong Kepentingan Rakyat

Sekarang ini, sudah saatnya siapapun kita, karena kita adalah rakyat sudah saatnya mesti berhati-hati untuk tidak terus berulang terperosok kelubang yang sama karena slogan mengucapkan kepentingan rakyat, sementara kenyataannya urusan perut lebih diutamakan.

Naujubilah Minjalik, perkataan ini jelas menunjukan kata sifat menjijikan, karena perkataan yang diucapkan tidak berbanding lurus maknanya dengan apa yang dimaksudkan. Kenyataan inilah, sehingga rakyat dipertontontan karena kemiskinan sementara yang berteriak mewujudkan kepentingan perutnya diatas segala kepentingan rakyat itu sendiri.

Banyak orang pintar, banyak orang yang berlatar belakang pendidikan yang memupuni, tetapi kesemua orang itu sebegitu mudahnya terkalahkan hanya karena mengutamakan urusan perut yang pondasinya Ia bangun dengan nyata sifat keserakahan itu sendiri.

Cerita semacam ini, memiliki satu arah tujuan yang sama di tengah rakyat berteriak menuntut keadilan, menuntut agar penegakan hukum tidak rucing kebawah tetapi mesti runcing keatas. Tragisnya, teriakan rakyat semacam itu sebegitu cepatnya terjawab, dan diteriakannya pula dengan nyaringnya dari orang – orang yang sebenarnya bertujuan untuk mengurusi perutnya sendiri.

Dan karena itu pula, sehingga jangan heran kebenaran akan sulit berani dikatakan, walaupun rakyat yang memilihnya untuk jabatan penting sebagai pemimpin rakyat, karena keserakahan yang dipertontonkannya hanya sekedar urusan perut maka karena itu kebenaranpun harus diperjuangan, dan naifnya kesalahan bisa menjadi kebenaran yang dianggap hakiki, karena pusaran kebenaran itu berada ditingkat urusan perut pula.

Beginilah kisah kita hidup karena label sebagai rakyat, dan tak mungkin kita akan hidup semuanya sebagai pemimpin, karena ada yang mengutakan kepentingan rakyat diatas kepentingan yang lain. Tetapi jangan lupa pula, ada yang lain mengutaman kepentingan perutnya diatas segala pentingan lain.

Tetapi ingat, jangan karena mengutamakan kepentingan perut justru ngomongnya untuk pentingan rakyat, karena kita sebagai rakyat sudah bosan menerima kenyataan itu, entah prilaku yang ditunjukan kepala daerah sampai pemimpin terendah sekalipun ngomongnya soal rakyat. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email