Menjadi HANTU Jangan Ajak Kaum Lain Menjadi SETAN

Mempertahan suatu kepentingan, kesalahan pun diminta menjadi suatu kebenaran, sehingga tidak mengherankan ketika kebenaran itu disampaikan justru dianggap salah karena mengusik kentingan itu sendiri.
 
Fonomena inilah yang sedang terjadi di tengah kehidupan kita, sehinga mau tak mau konflik berkepanjangan itupun bergulir sebegitu kencangnya, sehingga kebenaran dianggap suatu ancaman serius ALHASIL sebegitu mudahnya dianggap bohong atau Hoax.
 
Inilah perubahan yang terjadi di mimbar publik yang menjadikan media sosial (Medsos) sebagai alat propaganda, sehingga untuk memeprtahankan kepentingan yang salah sebegitu mudah kebenaran yang disampaikan untuk dipersalahkan, cukup mengatakan itu bohong atau HOAX.
 
Inilah hebatnya, sehingga walaupun jarang ditempuh ke jalur hukum menyangkut soal pemberitaan bohong, atau HOAX, alasan mempertahankan kepentingan, entah itu menyangkut soal jabatan bagi seorang anak, sanggup membeberkan kalau perkataan atau ungkapan hati sejujurnya orang tuanya sendiri yang benar begitu mudah dipersalahkannya menjadi pembohongan, atau HOAX.
 
Ini baru satu masalah, karena kepentingan yang salah dipertahankan menjadi suatu kebenaran, dan akhirnya perkataan yang benar disampaikanpun tidak perduli oleh siapa yang mengungkapkan itu benar menjadi polemik di ruang publik.
 
Padahal, kita semua tidak terkecuali siapapun sudah diajar untuk cerdas dan pemerintah sudah mengatur lewat Undang – Undang, setiap pemberitaan bohong yang disampikan keruang publik, tidak terkecuali entah itu dilakukan para pekerja reporter yang diamanahkan sesuai Undang – Undang pokok Pers, bisa digiring keranah hukum karena bila melakukan pemberitaan bohong, atau HOAX.
 
Namun anehnya, karena sikap kekuatiran hilangnya jabatan atau dengan kata lain takut dikenakan sanksi non job, sehingga rasa takut itupun sanggup melawan perkataan benar dari orang tuanya sendiri, dengan sebegitu mudah dianggapnya pembohongan atau HOAX lewat mimbar publik (medsos) yang dibungkus dengan kepentingan yang salah itu.
 
Lantas, sebegitu seriusnya ancaman seperti ini bagi seorang reporter (jurnalistik) tentunya tidak. Sebab, kebenaran tetaplah kebenaran tak akan berubah sampai kapanpun menjadi fitnah.
 
Untuk itu, selanjutnya marilah kita saling mengingatkan keberadaan mimbar publik salah satunya media sosial itu, tidak disalah gunakan menjadi alat propaganda karena kepentingan mempertahankan yang salah lantas menganggap yang benar  menjadi salah.
 
Ingat, seperti judul diatas tadi, paling tidak bisa dimaknai dari semua yang diungkapkan, jangan kita menjadi HANTU tetapi mengajak kaum lain menjadi SETAN, Alamak…….  (***)
 
 
Noer Faisal, Pemimpin Redaksi
Print Friendly, PDF & Email