MESKI SUDAH MENDUGA, SAH TERKEJUT KETIKA BACA DATA 97.5 PERSEN GURU TAK PAHAM IT

BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi – Tokoh pendidikan Jambi yang juga Anggota DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) mengaku cukup terkejut dengan data yang disampaikan Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji tentang rendahnya kompetensi guru dalam penguasaan teknologi.

Menurutnya dari total guru yang ada di Indonesia, hanya 2,5 persen yang tidak gagap teknologi. Selebihnya gaptek alias gagap teknologi.

“Kondisi sebagian besar guru kita belum melek IT saya sudah tahu, tapi ketika baca data dari Pak Indra yang mengatakan hanya 2.5 persen guru yang memahami IT membuat saya terkejut dan miris,” ungkapnya di Jakarta (21/10-2019) kemarin.

Karena kondisi ini menurut SAH berbanding terbalik dengan jumlah dana yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam meningkatkan kualitas gurunya. Ditambah lagi dengan masuknya mata pelajaran Teknologi Informasi dalam kurikulum meski hanya sebagai pilihan.

“Keterkejutan saya ini sebenarnya karena data ini berbanding terbalik dengan jumlah dana yang telah dikeluarkan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan para guru di bidang teknologi informasi, jadi terkejut dana yang besar tidak ada efeknya,” ungkapnya.

Selama ini menurut Anggota Fraksi Partai Gerindra itu para guru sudah di beri pelatihan, tunjangan sertifikasi guru, masih banyak yang gaptek. Jadi salahnya di mana ? Keinginan pemerintah sudah ada, dana sudah besar lalu salahnya dimana ? Ini yang jadi evaluasi kita ke depan, jelas SAH.

Terkait data tersebut SAH mengatakan datanya cukup bisa dijadikan rujukan atau dengan kata lain cukup valid, sehingga kesimpulan guru yang tidak gaptek itu hanya 2,5 persen. Yang gaptek 97,5 persen loh. Lantas anggaran miliaran hingga triliunan yang sudah dikasih untuk apa kalau gurunya masih gaptek juga.

Hasil evaluasi DPR untuk sementara mengatakan rendahnya penguasaan teknologi ini, lanjutnya, karena pelatihannya tidak berpola dan kualitas pelatihnya juga sangat dipertanyakan. Alhasil dana negara hanya terbuang percuma tanpa hasil yang sesuai diharapkan.

Sehingga SAH menambahkan, Mendikbud yang baru harus tahu caranya membuat sistem pendidikan, yang mampu memahami AI (Artificial Intelligence), disrupsi pada revolusi industri 4.0, pembelajaran digital.

“Saya pikir ini tantangan bagi Menteri yang akan datang, bagaimana ada program yang bisa sesuai dengan kondisi guru kita, sehingga jika ada program yang sesuai proses transfer keahlian IT pada guru bisa berjalan optimal, intinya kita harus evaluasi sejauh mana program selama ini tepat atau tidak,” tandasnya.(lil/wyu/san)

Print Friendly, PDF & Email