Miliaran APBN Disedot, BWSS VI Bangun Tanggul di Tanjabtim Hasilnya Hancur

0
122
Beginilah kualitas pembangun tanggul yang dilaksanakan BWSS VI di Parit Ali, Desa Lagan Ilir, Kecamatan Mendahara, tampak ambrol, dan poto ini diambil, Jum’at (6/10-2017). Poto/pono

BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi – Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim), salah satu daerah yang terus menerus dibidik Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU/PERA) membangun tanggul.

Dalilnya jelas, karena  daerah ini merupakan daerah rawa di Provinsi Jambi, dan disamping itu bertujuan untuk menyelamatkan lahan perkebunan kelapa dalam (kelapa kampung), kelapa sawit, pinang, dan komoditi perkebunan lainnya dari ancaman bajir pasang surut.

Namun ironisnya, setiap tahun APBN dialokasikan dengan nilai miliaran dan bahkan sampai puluhan miliar, ternyata tanggul yang dibangun terus menuai masalah, seperti yang terjadi belum lama ini tanggul yang dibangun di Parit Ali, Parit Laudek, Desa Lagan Ilir, Kecamatan Mendahara, mengalami runtuh (ambrol) di beberapa titik.

Alur Sungai Parit Ali terbelah akibat exsavator pengeruk tidak sampai menjangkau alur sungai. Poto/pono

Hasil pantuan reporterbrandanews.co.id, Jum’at (6/10-2017) yang didampingi sejumlah warga di daerah itu, mereka menunjukan titik – titik kerusakan tanggul yang baru saja dibangun pihak BWSS VI seperti yang mereka jelaskan.

Seperti diungkapkan Daeng Rosak (35) , lelaki berdarah Bugis Wajo yang tinggal di daerah itu, tanggul yang baru dibangun ini, kata Ia, pengerjaannya sangat buruk kualitasnya, lihat saja itu sembari menunjukan tanggul yang ambrol di Parit Ali.

“Tidak ada gunanya tanggul yang dibangun kalau kualitasnya seperti itu. Sebab, akibat ambrolnya tanggul yang baru dibangun lahan perkebunan warga disini tetap saja terendam banjir air asin pasang surut,” ungkapnya.

Selanjutnya, Daeng Rosak yang kesehariannya sebagai petani pinang mengatakan, pembangunan tanggul Parit Ali dibangun BWSS VI cukup panjang karena terhubung hingga ke Parit Laudek, dan tidak hanya itu, pembangunan tanggul serupa juga sedang dilaksanakan pengerjaannya dari Parit Laudek terhudung ke Parit Gantung, dan menurut Ia, pihak BWSS VI tidak pernah melakukan sosialisasi terkait pembangunan tanggul itu kepada masyarakat.

Sementara itu, Iwan Bugis (26) yang juga merupakan warga di daerah itu mengatakan, pembangunan tanggul yang dilaksanakan di Parit Ali menggunakan alat berat eksavator yang tidak sesuai penjangkauannya, sehingga alur sungai yang dikeruk untuk mengambil tanahnya untuk pembuatan tanggul yang mereka bangun, sekarang alur sungai itu terbelah menjadi dua bagian.

“Ini jelas merusak, kalau tadinya di Parit Ali alur sungainya hanya satu sekarang terbelah akibat pengerukan yang tidak menjangkau ke tengah alur,” ungkapnya.

Namun anehnya, kerusakan tanggul itu dibantah salah satu pejabat BWSS VI Viktor Samudra, ketika dikonfirmasikan reporterbrandanews.co.id, Rabu (4/10-2017) Ia mengatakan, sekarang tanggul itu sudah diperbaiki dan tidak ada lagi yang mengalami kerusakan.

“Coba lihat ke lokasi, tanggul yang rusak itu sudah diperbaiki, silahkan kalau Komisi V DPR – RI mau meninjau tanggul yang kita bangun di Kecamatan Mendahara, silahkan karena tidak ada masalah,” begitu dikatakan Viktor Samudra saat dijumpai di VIP Room Bandara Sultan Thaha. (sal/fri/pon)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *