Mimpi Buruk Akhir Jabatan

Jabatan itu adalah amanah rakyat. Lantas, rakyat memilih dan selanjutnya rakyat menolak, biasanya barulahlah disadari sebagai mimpi buruk yang pastinya datang diakhir masa jabatan.
Rakyat, biasanya selalu saja tidak diuntungkan ketika calon pemimpin, seperti bupati, walikota, gubenur hingga presiden sekalipun, ketika lakon yang diucapkan membela kepentingan rakyat hanya diucapkan sebagai hiasan bibir semata.
Sebaliknya, tidak berbeda dengan sikap pemimpin yang sedang berkesumat mempertahankan jabatannya. Cenderung, terkadang bisa dimaknai sebagai sikap biadab yang tidak mencerminkan dari seorang pemimpin yang memang semesti dan seharus membela kepentingan rakyat itu sendiri.
Periode lima tahun masa jabatan. Atau, lima tahun tercatat mendukuki jabatan karena memenangkan pesta demokrasi, biasanya berubah total diakhir masa jabatan itu. Rakyat, seakan diberikan angin segar, dengan dijambangi pemimpin maupun calon pemimpin, termasuk dengan membawa sejumlah bantuan yang jenisnya beragam. Tetapi tidak jarang, rakyat pun diberikan uang receh.
Begitulah, biasanya cara pemimpin dan calon pemimpin mengambil hati rakyatnya dengan penuh harapan dapat dipilih, atau terpilih kembali supaya dapat mengelola uang rakyat dengan dalil pembangunan.
Tetapi jangan heran setelah mempi buruk itu berlalu. Maksudnya ? Jika terpilih dalam pesta demokrasi, sikap dan perbuatannya cenderung berubah, dan itulah kebanyakan yang dialami atau yang dirasakan setelah kita sebagai rakyat memilih mereka dengan semangat menitipkan amanah rakyat dipundaknya.
Lakonnya berubah seratus delapan puluh derajat. Kalau yang tadinya bersikap ramah, sering memberikan sumbangan terkadang tidakpun diminta, sekarang jangan harap, dan tidak mengherankan, kalau kita terlibat sebagai tim dalam memenangkan mereka justru pertama lebih awal justru tidak diakui, begitulah jika memimpin buruk mereka telah berlalu.
Untuk itu, tak salah kita saling mengingatkan, walaupun kita hanya berkumpul sepuluh orang. Mulai sekarang, kita sebagai rakyat tidak lagi memilihnya, karena mereka itu pemimpin bertopeng yang lakon baiknya hanya ketika mereka butuh rakyat.(***)

Noer Faisal                                                                                                               Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email