Myanmar Itu Biadab Apapun Alasannya

PEMBANTAIAN sadis yang terjadi di Myanmar terhadap warga minoritas Rohingya, merupakan perbuatan biadab apapun alasannya.
 
Myanmar yang sekarang dipimpin Pahlawan Demokrasi Aung Suu Kyi, tak ubahnya seorang iblis perempuan yang sedang memimpin negara Barbar. Tetapi anehnya, dalam catatan sejarah perempuan bertubuh kerempeng ‘kurus kering’ itu justru dilabelkan dengan anugerah peraih Nobel Perdamaian.
 
Dasar biadab, Aung Suu Kyi, dengan melepas kekuatan militer yang dipersenjatai peralatan perang super otomatis membunuhi, tidak terkecuali lelaki dewasa, lelaki remaja. Malah, perempuan tua renta, perempuan gadis diperkosa dan dibunuh begitu juga anak – anak balita habis mereka bunuh. Inilah Myanmar sekarang.
 
Tetapi anehnya, kita sebagai ummat manusia hanya bisa mengutuk perbuatan keji atas pembunuhan sadis warga Rohingya itu. Simbol – simbol perlawanan yang digelorakan rakyat di seluruh dunia baru sebatas marah yang disampaikan melalui media sosial.
 
Sedangkan para pemimpin dunia, sepertinya tak mampu melakukan perlawanan terhadap kebrutalan wanita ‘kurus kerempeng’ Aung Suu Kyi itu yang terus membiarkan dinegaranya terjadi pembunuhan keji itu.
 
Amerika Serikat (AS) yang selama ini menganggap sebagai ‘polisi dunia’ justru hingga sekarang tak bergeming, dan malah justru terus menonton aksi pembunuhan biada itu. Padahal, kalau kita masih ingat, bagaimana Iraq, bagaimana Mesir, bagaimana Vietnam habis luluhlantak mereka bom bardir dengan dalil kemanusiaan.
 
Menyikapi kenyataan itulah, Indonesia harus mengambil peran untuk menghentikan kebiadapan yang terjadi di Myanmar, paling tidak mengajari Aung Suu Kyi itu dengan ajaran yang tertuang di dalam PANCASILA.
 
Pemimpin Indonesia tidak perlu takut itu. Ajaran Pancasila harus ditegakan di Myanmar. Sebab apa ? Presiden Soekarno (Bung Karno) 7 Januari 1965, sanggup menyatakan Republik Indonesia (RI) keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
 
Dan itu hanya dikarenakan Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, dan menyikapinya dengan Persatuan Umat Manusia supaya tidak terjadi perang, seperti yang sekarang terjadi di Myanmar. (***)
 
Noer Faisal, Pemimpin Redaksi
Print Friendly, PDF & Email