Myanmar Kerahkan Full Kekuatan Militer Bunuh Sadis Warga Rohingya

0
294
Myanmar terus lengkapi peralatan perang militernya dan sekarang yang terancam warga minoritas Rohingya. Poto/ist
BRANDANEWS.CO.ID/NewsJambi Kecaman negara internasional terhadap Myanmar tampaknya tidak dipedulikan. Bahkan, Pemerintah Myanmar kerahkan full kekuatan militernya untuk menghabisi warga minoritas Rohingya dengan sadis, tidak peduli lelaki dewasa, kaum perempuan dan anak – anakpun mereka bunuh.
 
Sikap brutal tentara Myanmar itu semakin menjadi-menjadi, walaupun ditengah mendapat kecaman banyak negara di dunia, Myanmar terus meningkatkan kekuatan militernya dengan membeli sejumlah peralatan perang.

Hingga tahun 2017 ini, selain telah memesan sebanyak 16 jet tempur multi fungsi JF-17 Thunder (FC-1 Xiaolong) produksi kerja sama China-Pakistan, Myanmar juga sudah mengoperasikan sejumlah drone (UAV) bersenjata buatan China, CH-3.
Kehadiran drone bersenjata ini jelas menjadi ancaman serius bagi kelompok minoritas Rohingya yang selama ini selalu menjadi sasaran operasi militer Myanmar.
Apalagi penggunaan drone bersenjata ketika dioperasikan untuk menyerang sasaran tidak bisa selektif sehingga semua warga Rohingya bisa menjadi korban.
Drone CH-3 diprodusksi oleh China Academy of Aerospace Aerodynamic of China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) yang juga dikenal sebagai 11th Academy of CASC.
Sebagai drone bersayap tetap untuk kepentingan tempur, Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV), CH-3 yang memiliki wingspan 8 meter, menggunakan mesin dengan tiga bilah baling-baling dan bisa terbang selama 12 jam tanpa mengisi bahan bakar ulang.
Persenjataan yang bisa diusung oleh CH-3 yang mampu terbang sejauh 2.400 km itu mencapai berat maksimum hingga 80 kg.
Dalam misi tempur biasanya CH-3 dipersenjatai dua rudal udara ke darat pemandu laser AR-1 yang kemampuan daya hancurnya setara dengan rudal AGM-114 Hellfire buatan AS karena bisa menghancurkan satu tank lapis baja.
Pembantaian sadis terhadap warga Rohingya yang dilakukan militer Myanmar. Poto/ist
Selain militer Myanmar, drone tempur CH-3 juga sudah dioperasikan oleh militer Nigeria dan Pakistan.
Bukti-bukti drone sebagai senjata ‘’biadab’’ ketika dioperasikan adalah banyaknya penduduk sipil Afghanistan yang tewas akibat penggunaan drone bersenjata oleh militer AS.
Drone yang dioperasikan militer AS di Afghanistan ditujukan untuk membunuh para tokoh teroris, tapi karena para teroris juga tinggal bersama warga yang tidak bersalah, ketika diserang drone mereka ikut jadi korban.
Tragedi seperti di Afghanistan ini akan terulang jika militer Myanmar menggunakan drone-dronenya untuk menyerang warga Rohingya.
Demi mempersiapkan diri untuk menghadapi konflik perbatasan dengan China dan Bangladesh, militer Myanmar telah membeli sebanyak 1000 kendaraan angkut personel lapis baja (APC) dari Ukraina.
Proses pengiriman 1000 APC BTR-3 U
Kehadiran APC dalam jumlah besar ini selain digunakan untuk memperkuat pertahanan di perbatasan juga disinyalir akan berakibat negatif bagi penduduk minoritas Myanmar, Rohingya  yang selama ini mendapat perlakuan buruk.
Sebagai kendaraan angkut personel lapis baja, BTR-3U yang proses produksinya merupakan kerja sama antara Ukraina dan Uni Emirat Arab itu merupakan pengembangan dari BTR-80 buatan Rusia.
Militer Myanmar ternyata cukup sadis ketika menghabis warga Rohingya tanpa perlawanan. Poto/ist
Persenjataan yang dimiliki BTR-3U antara lain kanon kaliber 30mm, senapan mesin kaliber 7.62 mm, peluncur granat otomatis kaliber 30 mm, rudal antitank, dan lapisan baja yang membungkus bodi BTR-3U bisa menahan gempuran peluru meriam.
Untuk mengoperasikan BTR-3U dibutuhkan tiga ora kru, yakni sopir, opeartor senjata, dan komandan.Personel pasukan bersenjata lengkap yang bisa diangkut sebanyak enam orang dan para pasukan ini bisa melancarkan serangan dari BTR-3U melalui lubang-lubang tembak yang sudah tersedia.
Para pasukan bisa masuk dan keluar dari BTR-3U melalui pintu samping dan dari atap.
Dengan mesin buatan Jerman Deutz BF6M1015 berkekuatan 326 daya kuda, mesin BTR-3U baru diservis setelah dioperasikan hingga 60.000 km.
Selain bisa dioperasikan di medan-medan berat daratan, BTR-3U juga bisa dioperasikan di lautan karena memiliki kemampuan amfibi.
Guna memenuhi kebutuhan suku cadang, Myanmar sudah diijinkan untuk memproduksi BTR-3U dengan lisensi dari Ukraina.  (jul/berbagai sumber)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *