Nasib Pengrajin Bata di Mestong, Terhimpit Ekonomi Pemerintah tak Mengubris

0
75
Parwi bersama istri dan tiga anaknya yang berharap adanya bantuan pemerintah kepada pengrajin bata. foto/fik


BRANDANEWS.CO.ID – “Tak pernah ada bantuan, tak pernah ada bimbingan, dan tak pernah ada sentuhan apapun. Pemerintah maunya ngurusin yang ‘gede-gede’. Ngak tau maunya pemerintah itu apa, kalau pejabatnya ngomong seakan kebijakannya untuk membela kepentingan rakyat kecil,” demikian diungkapkan Parwi (45) salah seorang pengrajin bata (batu merah) di RT 10, Pondok Meja, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi,

Parwi, salah satu dari sekian banyak pengrajin bata di daerahnya itu. Bapak tiga anak, asal Blora Jawa Tengah kepada brandanews.co.id, Minggu (2/4-2017) menuturkan, selama dirinya menjadi pengrajin bata sejak tahun 2001 lalu, belum sekalipun ada bantuan yang diterimanya dari pemerintah.

“Entah itu, bantuan modal, bantuan alat pengolahan, ndak penah ada pak, dan malah yang ada pengrajin selalu disulit, seperti melarang truk bemuatan bata memasuki Kota Jambi, misalnya, kan tidak mungkin bata diangkut dengan motor, atau mobil kecil, seperti mobil Suzuki Cerry,” kata suami Suhari (37).

Oleh karena itu, dikatakan Parwi yang mengaku dalam usahanya itu dibantu empat buruhnya, jika Ia menghadapi masalah sulit soal perekonomian, akhirnya terpaksa ‘ngutang’ kesana kemari, termasuk berhutang dengan rentenir. “Kondisi seperti ini sering kami hadapi, dan tak jarang juga dilakukan pengrajin bata lainnya,” katanya.

Saat didatangi brandanews.co.id, Parwi memang sedang tidak beraktivitas, hanya ada puluhan ribu bata yang siap dibakar, dan kebetulan pada hari itu hujan turun begitu lebatnya. “Kalau hujan seperti ini membuat aktivitas kami disini terhenti. Apalagi, kalau musim hujan kayu bakar sulit didapat,” terangnya.

Menurut Ia, rata – rata pengrajin bata, seperti dirinya hanya dapat membakar bata sebanyak 60 ribu, sedangkan proses pengerjaannya selama dua bulan, dari jumlah itu hanya bisa dijual sebanyak 50 ribu bata, dengan penghasil kotor tak lebih Rp 15 juta, dan itupun kalau tidak ada masalah dalam pembakarannya.

“Penghasilan kotor itu hanya bisa diperoleh saya selaku pengrajin Rp 5 juta bersihnya selama dua bulan. Mau bilang apa, itulah ketrampilan yang saya bisa lakukan untuk menghidupkan keluarga saya,” sebutnya.

Selanjutnya, Parwi menjelaskan, menyangkut penghasilan empat buruh yang dipekerjakannya, dihitung dari hasil borongannya, yakni untuk seribu bata yang dicetak dan dibakar buruh itu hanya mendapat upah darinya sebesar Rp 80 ribu.

Sekarang ini kondisinya serba sulit, walaupun penjualan bata tidak ada masalah karena banyak yang membutuhkannya, tetapi lamban laun pengrajin bata akan hilang terkikis karena banyak buruh yang sudah tidak lagi bekerja karena alih profesi, dan belum lagi diperparah dengan mahalnya harga kayo.

Sekarang ini, sudalah harganya mahal, kayu itupun semakin sulit diperoleh, dan ini dibuktikan dari harga per mobilnya Rp 750 ribu, dipesan empat truk baru datang satu truk, sisanya belum taukapan diatar lagi.

“Kami sebagai pengrajin bata berharap kepada Pemerintah Kabupaten Muarojambi, supaya dapat memperhatikan pengrajin bata di daerah ini. Kami punya ketrampilan, tetapi kalau tidak didukung pemerintah kami masih terhenti beraktivitas,” kata Parwi. (fik/sal)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *