Pecundang Disarang Perjuangan

Pecundang, bisa diartikan beragam karena banyaknya makna yang bisa dimaksudkan dalam kata pecundang. Tetapi, maksud pecundang pastinya tidak bagus, karena pecundang itu sendiri bisa diartikan sebagai pelaku pengecut, dan tidak jarang pula pecundang dapat dimaksudkan sebagai sosok serakah yang meraup keuntungan pribadi dan kelompoknya, dengan tidak bertanggungjawab.

Dalam strategi politik, pecundang tidak gampang terdekteksi, baik itu geraknya, sikapnya, bahkan keputusannya karena warna yang dibawanya selalu menyerupai warna dimana keberadaan pecundang itu sendiri. Makanya, dalam perjuangan politik mewaspadai pecundang dalam sarang perjuangan semestinya jauh lebih diwaspadai ketimbang lawan politik itu sendiri.

Dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang dilangsungkan 2018 mendatang, sel pergerakan pecundang tidak bermain di ranah lawan, melainkan justru bermain di dalam ruang perjuangan itu sendiri, sehingga kekalahan yang terjadi tidak menyimpulkan adanya kelebihan lawan politik terkecuali menyadari kekalahan itu karena adanya pecundang yang bersarang di dalam perjuangan yang dimaksudkan.

Kenyataan inilah yang selanjutnya membesarkan hati bagi calon kepala daerah yang kalah nantinya, dan selanjutnya melahirkan sisi positif karena pelaksanaan pilkada serentak bisa berjalan damai, tanpa adanya konflik, karena kekalahan yang dialami lebih disebabkan karena sikap dan perbuatan pencundang yang memang menghendaki kekalahan demi meraup keuntungan dibalik itu.

Pecundang, memang selalu diuntungkan karena biasanya baru diketahui belakangan setelah menuai kekalahan, sedangkan dalam posisi menang justru pecundang lebih tidak jarang dimaknai sebagai pahlawan dari kemenangan itu karena dianggap kemenangan merupakan perjuangannya. Itulah hebatnya pecundang yang berada di dalam sarang perjuangan.

Untuk itu, kemenangan di pilkada nanti harus tetap waspada, karena pecundang selalu akan menghancurkan demi meraup keuntungan, termasuk pecundan yang mencoba mengutak-atik hak prerogratif kepala daerah yang memenangkan pilkada itu.

Waspadai, prilaku pecundang tidak saja bagi kelompok yang kalah, tetapi akan membahayakan di kelompok yang memenangkan pilkada, karena kepala daerah itu dipilih rakyat dan bukan dipilih pecundang. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email