Pejabat Model Sekarang, Mendingan Saya Seperti Iblis

Bencana silih berganti, dan selanjutnya dimana – mana rakyat menjerit karena bencana itu kerapkali menghantam rakyat miskin. Bahkan, celakanya bencana yang ditimbulkan akibat ulah manusia serakah dengan merusak lingkungan, justru tak pernah merasakan bencana yang ditimbulkannya itu.

Misalnya, seperti bencana kabut asap akibat aksi pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan pihak korporasi (perusahaan) untuk kepentingan investasi perkebunan, misalnya. Malah, rakyat miskin yang menjadi korban yang tidak jarang bukan saja menimbulkan kerugian harta benda akibat itu, tetapi malah hingga menjadi korban jiwa. Alias mati.

Lantas yang parahnya lagi, setelah rakyat menjadi tumbal akibat pembakaran hutan dan lahan, sadisnya negara juga harus menanggung kerugian yang akhirnya terpaksa mengeluarkan uang rakyat karena bencana yang dilakukan   pihak perusahaan tersebut.

Waduh, sebenarnya batin ini merintih hanya untuk masalah karhutla itu, anehnya perusahaan selalu diuntungkan dan negara dirugikan termasuk buktinya gugatan negara terkalahkan dipengadilan karena hebatnya kekuatan korporasi itu.

Bagaimana dengan banjir seperti yang baru ini terjadi melanda Kota Jambi, tidak saja rumah penduduk terendam banjir, harta bendanya rusak, dan lain sebagainya, fasilitas umum hancur, dan bahkan Lapas Jambi pun luluh lantak akibat banjir parah, dan akhirnya pihak kepolisian dan tim buru sergap yang ada terpaksa harus berjuang kembali mengejar para Napi dan Tahanan yang kabur.

Lagi – lagi, mau tidak mau mesti diakui uang rakyat dikorbankan untuk menghadapi persoalan banjir yang melanda Kota Jambi. Padahal, penyebab banjir itu sudah jelas akibat pembangunan serampangan, hilangnya daerah resapan air dan masih banyak lagi yang dilanggar karena tidak berjalannya fungsi pengawasan, fungsi ketegasan yang semestinya menjadi tanggung jawab dan kewenang pejabat pemerintah itu sendiri.

Namun  hal itu tidak pernah disadari, dan malah ketika bencana itu terjadi meluluh lantakan kehidupan rakyat dan perekonomiannya, justru yang terjadi, seperti yang terlihat saat banjir Kota Jambi, kemarin, pejabat entah itu Gubernur, entah itu Walikota, sibuk menunjukan sikap kepeduliannya kepada rakyat yang menjadi korban bencana, sampai ada yang menggendong anak – anak, ada yang pasang muka bersedih, dan macam – macam.

Tetapi tunggu dulu, ketika mereka didesak, atau diminta untuk mencabut perizinan, menutup gedung yang dirasakan menjadi penyebab bencana banjir yang dimaksudkan, sebegitu hebatnya juga mereka sebagai pemimpin berkilah, tak ubahnya seperti lakon seorang aktor yang sedang bermain dalam kehidupan rakyat yang dilantak bencana.

Artinya, itulah model pejabat sekarang ini, soal berlakon bukan masalah, soal tanggungjawab tunggu dulu, soal yang lainnya apalagi, maaf saya tidak mengatakan fulus soal itu. Tetapi terpaksa harus mengakui, dengan mengatakan ‘Mendingan Saya seperti Setan’ yang tak akan pernah merasakan adanya bencana seperti yang dialami rakyat miskin itu. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email