Penghianat tak Lahir Kehendak Rahim Ibunya

Pejuang yang sebenarnya tidak pernah akan menghitung untung rugi dalam perjuangannya. Tetapi sekarang, jangan heran banyak yang mengaku pejuang membela kepentingan rakyat, justru lahir karena sikapnya yang cenderung untuk tujuan mendapatkan penghasilan lebih karena pembenaran yang tak pernah mampu dipertanggung jawabkannya sendiri.

Peran media sosial, atau medsos, seperti cerita katak dalam tempurung. Soal kebenaran, bukanlah suatu tujuan yang hakiki dalam perjalan hidup yang dasarnya untuk tujuan membela kebenaran itu sendiri. Terkadang sepuluh mengatakan salah dan sebelas mengatakan benar, malah yang terjadi salah menjadi benar yang benar menjadi salah.

Jangan heran, itulah dinamika yang terjadi sekarang ini. Untuk mengatakan yang sebenar – benarnya itu benar, bukanlah persoalan mudah dalam perkataan benar yang dimaksudkan. Dinamika kehidupan semu yang sulit dipertunjukan menjadi suatu kebenaran karena sikap kebodohan dari orang yang berada disekitarnya.

Lakon seperti ini, sebenarnya mulai bosan untuk kita perdengarkan. Mirip, seperti cerita alkisah yang selalu mengatasnamakan kebenaran justru dijadikan alat untuk menyalahkah kebenaran itu sendiri. Akbatnya, pemimpin yang sebenar benarnya menjadi benar, dan akhirnya menjadi tersalahkan karena penghianatan yang dilakukan orang salah yang selama ini mengaku benar.

Tetapi, apa yang mau dikata, pergeseran pola pikir yang selama ini cenderung melakukan kesalahan, dan lantas ‘sekonyong – konyong’ pembenaran yang hakiki itupun dipersalahkan, tak ubahnya seperti lakon PKI yang kita sudah lupa akan peristiwa demi peristiwa yang begitu sangat mengerikan di negeri ini pada waktu itu.

Sama seperti ketika rakyat medesak mesti segera dilakukan perbaikan jalan di Sungai Bahar, salah satu misalnya, justru orang – orang yang bermasalah hidup akibat jalan rusak itu menjadi diangap seperti penghianatan menentang pemerintah.

Aneh bukan sebenarnya, kalau kita salah ingin mengingatkan, dan saling ingin mengatakan kebenaran itu adalah benar, dan bukan mengatakan salah yang diteriakan karena aku ingin sesuatu. Lantas untuk apa ? Kita lahir mengaku pejuang karena lahirpun dari rahimnya seorang penghianat.

Akhirnya, untuk sekian kalinya kita semua mesti mengingatkan, untuk tidak lagi bermain – main dengan penghianat, termasuk soal jalan rusak yang diteriakan karena alasan dianggap itu penghianatan kepada pemerintah yang sedang berkuasa, sementara yang berdalih membela pemerintah justru penghianat yang akan terungkap ketika mereka lapar.

Ingat, ingat, penghianat mulai hari ini kita pastikan tidak akan pernah lahir dari rahim ibunya sendiri yang memang anti penghianatan, terlebih bapaknya pun dianggap lawan karena menentang kebenaran menjadi salah seperti yang dianggap penghianat itu sendiri. Masya Allah……. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email