Pilkada Butuh Ongkos Politik Tak Cukup Do’a

Ora Et Labora “Bekerja dan Berdo’a” kita semua mesti meyakini itu, karena bekerja tanpa do’a, bisa diartikan hidup tanpa arah tujuan. Tetapi, menyangkut urusan politik, sepertinya tidak cukup hanya mengandalkan kesungguhan dan do’a, seperti yang dimaksudkan diatas tadi.

Menghadapi persoalan politik, seperti contoh misalnya ikut dalam kontestan nyalon Presiden dan Wakil Presiden, nyalon Gubernur dan Wakil Gubernur, dan selanjut nyalon Bupati dan Wakil Bupati, mapun nyalon Walikota dan Wakil Walikota, pastinya membutuhkan ongkos politik yang membutuhkan banyaknya uang (duit).

Oleh karena itu, tidaklah menjadi heran untuk maju sebagai calon dalam pesta demokrasi yang dipilih langsung oleh rakyat seperti sekarang ini, selain adanya kesungguhan, selain adanya do’a maupun dukungan karena tingginya popularitas itu, kesiapan ongkos politik akan selalu dipertanyakan kesiapannya.

Kenyataan inilah sehingga, mau tidak mau haruslah diakui calon incumbent selalu sedikit lebih diuntungkan dalam setiap perhelatan pesta demokrasi yang pilihannya ditentukan oleh rakyat, terkecuali lawan politik yang menghapi calon incumbent itu memiliki kelebihan ekstra, seperti rencana kerja yang bisa menghipnotis rakyat, memiliki ongkos politik seimbang, memiliki popularitas yang tinggi dihadapan rakyat.

Kalau sudah seperti itu yang dimiliki, calon yang berhadapan dengan calon incumbent, popularitasnya cukup, ongkos politiknya cukup, rencana kerja yang akan dibawanya mampu membangkitkan gairah rakyat, barulah do’a bisa diandalkan untuk dapat memenangkan pesta demokrasi, dan kalaupun ternyata kalah, artinya kita sudah melakukan ikhtiar karena apa yang dilakukan sudah turut disertai dengan do’a itu.

Itulah sebabnya, antara kekuatan ongkos politik, popularitas, program kerja yang mampu menggaet keinginan rakyat, dan do’a, mesti disadari adalah satu kesatuan yang untuh yang tak dapat terpisahkan, sehingga baru dapat dikatakan akan mendekati kemenangan dalam pesta demokrasi itu.

Memiliki popularitas, dan do’a, seperti yang dimaksudkan dengan Ora Et Labora, tidaklah cukup, karena kekuatan ongkos politik dan rencana kerja yang mampu menghipnotis rakyat menjadi dua perangkat yang sangat menentukan dalam persiapan menghadapi pesta demokrasi.

Terlebih lagi, rakyat sekarang sudah terbina dengan kekuatan ongkos politik soal siapa yang mereka pilih, dan selanjutnya ternyata salah bukanlah dianggap soal, karena sebelumnya sudah dibungkus dengan politik uang, atau money politik.

Akhirnya timbul pertanyaan. Akankah menghadapi Pilkada di tiga daerah di Provinsi Jambi tahun 2018, seperti Kota Jambi, Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin, cukup dengan mengandalkan popularitas dan do’a ? Tentu bukan juga mustahil, tetapi yang pastinya popularitas dan do’a yang diandalkan untuk memenangkan pesta demokrasi tidak lebih hanyalah suatu pengharapan. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email