Puluhan Pelabuhan Tikus di Pantai Timur Jambi Rawan Penyelundupan

Pelabuhan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjungjabung Timur. Foto: Istimewa

BRANDANEWS.CO.ID – Sedikitnya terdapat puluhan pelabuhan tikus di dua daerah perairan pantai timur Jambi, yakni Kabupaten Tanjungjabung Barat dan Kabupaten Tanjungjabung Timur, selama ini dijadikan sarana memuluskan aktivitas penyelundupan.

Selain sembako, seperti beras, gula, susu, bawang merah, bawang putih, terdapat juga barang selundupan yang masuk ke pelabuhan tikus yang ada di kedua daerah itu, seperti baju bekas, spart part kendaraan seperti alat berat, eletronik, minuman keras, dan ada dugaan barang haram seperti narkoba juga diselundukan masuk ke daerah itu.

Demikian seperti diungkapkan, Saudin (45) salah seorang nelayan tradisional yang mengaku sudah puluhan tahun menyisir pinggiran pantai perairan Jambi untuk melakukan penangkapan ikan.

“Saya tidak jarang melihat masuknya kapal – kapal kayu menuju ke pelabuhan tikus membongkar barang hasil selundupan. Paling sering saya lihat kapal – kapal itu membawa sembako seperti beras, bawang merah, bawang putih dan sejumlah barang lainnya hasil kejahatan penyelundupan itu,” terang nelayan asal Nipah Panjang, Kabupaten Tanjungjabung Timur kepada reporter brandanews.co.id, Sabtu 3/6-2017).

Kalau saya amati selama ini kata Saudin, ada beberapa kali dilakukan penangkapan oleh pihak yang berwajib. Namun karena lemahnya pengawasan yang dilakukan di daerah – daerah pelabuhan tikus yang ada itu, sehingga aktivitas penyelundupan terus berlangsung.

“Bahkan, ada beberapa kali di kawasan lepas pantai terjadi penyelundupan bahan bakar minyak yang sedang dibongkar dari kapal tradisional dan selanjutnya dipindah ke kepal yang lebih besar untuk mengangkut bahar bakar minyak itu ke luar negeri,” ungkap Saudin.

Selanjutnya, seperti dijelaskan Saudin, barang hasil selundupan yang masuk ke pelabuhan tikus yang ada itu kebanyakan berasal dari Malaysia dengan menggunakan kapal kayu, dati pelabuhan tikus itu selanjutnya barang – barang haram diangkut dengan menggunakan truk untuk dikirimkan ke seluruh daerah di Indonesia.

Selain Saudin, sejumlah nelayan yang lain, seperti Daeng Pande (53) mengatakan, perairan pantai timur Jambi tidak saja menjadi rawan kejahatan penyelundupan, tetapi perairan ini juga rawan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan pukat harimau (trawl).

“Nelayan tradisional di daerah ini sangat marah jika melihat pukat harimau itu beroperasi. Sebab menurut dia, ketika pukat harimau itu dioperasikan secara otomatis hasil tangkap ikan nelayan tradisional menjadi sangat berkurang, dan bahkan tidak jarang nelayan pulang tanpa membawa hasil tangkapan,” terang Daeng Pande.

Nelayan disini, kata Daeng Pande yang juga asal Nipah Panjang, berharap agar pihak yang berwenang melakukan operasi secara besar – besaran untuk menghentikan aktivitas penyelundupan maupun aktivitas pukat harimau, terlebih saat menghadapi lebaran Idul Fitri. (fik/sal/jul)

Print Friendly, PDF & Email