Stop Pencitraan, Mulai Melangkah Bekerja

Joko Widodo (Jokowi) ketika resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke 7 bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, spontan langsung bergegas dan mengajak semua pihak untuk berkerja. Artinya, ajakan itu segaligus jawaban tidak lagi pencitraan.

Tetapi, anehnya justru di daerah malah para kepala daerah, entah itu Gubernur, entah itu Bupati, dan entah itupula Walikota, justru terus sibuk melakukan pencitraan ketimbang bekerja seperti yang diajak Presiden Jokowi.

Akibatnya, karena sibuk pencitraan, sibuk urusan poto bareng, sibuk poto selfie, malah tugas pokoknya sebagai seorang kepala daerah sepertinya terlupakan, dan alhasil, masyarakat yang tadinya berharap banyak dengan memilihnya sebagai kepala daerah tak ubahnya menitipkan harapan itu kepada patung batu.

Seperti salah satu contoh, akibat kerusakan jalan di Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi, warga dari daerah itu mendadak mendatangi Patung Sultan Thaha Syaifuddin yang berada di dekat kantor Gubernur Jambi, sebagai pengharapan agar patung Raja Jambi itu mendengarkan pendiritaan mereka.

Sebenarnya, apa yang dilakukan warga Sungai Bahar bisa dimaknai sebagai bentuk protes mereka, karena menganggap lebih baik mengadukan nasibnya kepada patung batu ketimbang mengadukan nasib mereka itu kepada pejabat yang mereka pilih.

Akhirnya, disadari atau tidak, akibat kesibukan pencitraan, poto bareng, poto selfie yang dilakukan secara terus menerus oleh kepala daerah yang sepertinya masih dalam kondisi berkampanye itu, menimbulkan sumpah serampah masyarakat yang sekarang dipimpinnya.

Alamak, itulah akibat kepala daerah yang tidak mengikuti ajak Presiden Jokowi untuk selalu bekerja… bekerja dan bekerja untuk rakyat. Kalau sudah begini, jangan salahkan ibu mengandung, tetapi salah aku mengapa masih ‘ngedablek’ (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email