Strategi Politik, Calon Raja Berubah Abdi Dalem Menjadi Budak

0
105

STRATEGI politik semuanya dapat dibenarkan, dan hebatnya lagi politik yang merupakan alat tujuan mengejar kekuasan itu, malah menjual anak kandung sekalipun justru dapat dihalalkan.

 
Karena itu, makanya tidak perlu heran jika ada yang menganggap politik itu kejam ungkapan itu tidaklah salah, dan bahkan begitu juga dengan janji-janji politik jangan dianggap aneh karena itulah politik yang penuh siasat untuk tujuan mengapai suatu kekuasaan.
 
Lantas, mungkin kalau ada dari kita yang menganggap janji politik itu dusta tentu juga tidaklah salah, karena berjuta – jutapun janji politik itu ditaburkan kesimpulannya satupun haram ditepati. Ayo masih mau dengar lagi, ayo masih mau terlena lagi kalau ternyata janji politik itu haram ditepati.
 
Selanjutnya, begitu juga dengan strategi politik untuk mengejar kekuasaan nasional, atau mengejar kekuasaan di tingkat daerah tidak perlu diherankan kalau yang tadinya nyalon presiden, nyalon wakil presiden tetapi kalah, dan periode berikutnya ikut dukung calon lain ternyata menang akhirnya menjadi menteri, atau sekurang – kurangnya masuk dalam lingkaran kekuasaan itu.
 
Begitu juga dengan persoalan mengejar kekuasaan di daerah. Entah itu nyalon gubernur, nyalon wakil gubernur, nyalon bupati, nyalon wakil bupati, nyalon walikota atau nyalon wakil walikota, situasinya tidak menjadi berbeda sebab biasanya yang kalah kalau masih mau nurut, dengan artian mau mendukung lawan yang mengalahkannya di gelombang mengejar kekuasaan berikutnya, tentu bukanlah hal yang tabu apalagi dianggap haram.
 
Sebab apa ? Percaturan politik itu tetap dianggap berjalan dinamis, kalau yang tadinya mungkin calon wakilnya kalah bersamanya, dan kemudian calon wakilnya justru maju kembali mendampingi lawan politik yang mengalahkannya, selagi mau mendukung tidak ada suatu keanehan mesti calon raja akhirnya menjadi abdi dalem.
 
Itulah kejamnya politik, calon raja menjadi abdi dalem dan selanjutnya dijadikan budak bukanlah menjadi soal untuk tujuan mengejar kekuasaan itu, karena disitu tidak ada ukuran yang kalah akan tetap terhormat, sejauh mau ikut mendukung silahkan masuk lingkaran.
 
Begitulah kejamnya politik itu, perasaan sedih atas kekalahan politik tidak berlaku, terkecuali kita sebagai rakyat yang kalah mendukung calon raja mungkin jijiknya melihat raja terpilih, sedangkan calon raja biasanya tidak memiliki perasaan yang sama dengan rakyat yang mendukungnya.
 
Untuk itu, seperti apa sikap kita sebagai rakyat yang kalah sementara calon raja yang kita dukung justru  malah tak menolak dijadikan abdi dalem dan kadang bahkan menjadi budak  di dalam mengejar kekuasan itu. Silahkan kita semua menjawabnya, tetapi kita sebagai rakyat yang cerdas tak salah mengungkapkan  dengan perkataan MUAK, tetapi jangan sampai MUNTAH…. (***)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *