Taman Hantu

Sekarang, di daerah ini sedang demam membangun taman – taman yang dilakukan pemerintah. Pastinya, program pembangunan itu bagus, disana ada taman Jomblo, disini ada taman Jaksa, disitu ada taman Gajah, dan ada pula taman yang dibangun dilahan terhimpit tanpa akses jalan yang memadai, dan belakangan dinamai taman Kongkow.

Soal membangun taman khususnya di Kota Jambi, menjadi catatan sejarah pembangunan taman yang dimulai sejak tahun 2015 lalu. Anggaran pembangunannya tentu tidak sedikit, singkat cerita sekarang pemerintah sedang demam membangun taman, demikianlah pastinya.

Tetapi, dibalik pembangunan taman yang anggarannya sulit di reka karena membangun taman tidak tercatat secara pasti harga satuan dalam pembangunannya, sehingga tidak menjadi heran muncul dugaan yang beragam, misalnya saja celoteh yang menganggap mungkin harganya di mark’up. Itu hanya dugaan.

Persoalan demam membangun taman yang sedang dilakukan pemerintah, sejenak kita tinggalkan dulu karena membahas soal membangun taman tidak menarik dibandingkan minimnya penerangan jalan di Kota Jambi.

Dampak dari minimnya penerangan jalan, tidak terkecuali di ruas jalan protokol di daerah ini, harus diakui telah menjadi penyebab tingginya angka kecelakaan, dan belum lagi kondisi itu diperparah banyaknya ruas jalan rusak sehingga menjadi ancaman keselamatan pengendara yang melintas.

Namun ternyata, membangun taman yang pastinya membutuhkan anggaran tidak sedikit lebih diutamakan ketimbang memberikan pelayanan penerangan kepada masyarakat yang memadai itu. Soal gelap gulita, setidaknya bukan soal, karena membangunan taman dianggap sebagai upaya membangunan keindahan kota.

Pemerintah, mungkin bisa saja beranggapan seperti itu karena membangun taman tidak saja anggarannya tidak terukuran tetapi keindahan pasti adanya demikian. Tetapi kita sebagai masyarakat, karena kondisi minimnya penerangan jalan, sehingga tidak pula menjadi heran jika muncul protes taman itu akan menjadi taman hantu karena gelap gulita disekelilingnya.

Ingat, taman hantu yang dimaksudkan karena minimnya penerangan jalan bukan berarti kita takut menghadapi setan, atau kita takut menghadapi kuntilanak, dan sebagainya. Tidak demikian, tetapi dibalik minimnya penerangan itu dan selanjutnya berdampak menjadi taman hantu, setidaknya kita akan semua menjadi takut karena kondisi gelap bukan berarti tidak akan ter4jadi perbuatan maksiat dan sebagainya.

Semoga, pemerintah memikirkan soal pembangunan taman yang indah itu harus diimbangngi dengan penerangan yang mencukupi, sehingga taman – taman yang dibangun itu tidak menjadi taman dosa karena maksiat terjadi disitu. Ingat bukan taman hantu karena disitu ada maksiat yang kita tak akan pernah tau kapan terjadi. (***)

Noer Faisal / Pemimpin Redaksi

Print Friendly, PDF & Email