Tontonan Pencitraan Menuju Tahun Politik

0
81

TAHUN 2018 memasuki tahun politik, karena akan dilangsungkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah daerah di Indonesia, dan tidak terkecuali di Jambi, seperti Kota Jambi, Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Merangin.

Selanjutnya, tahun 2019 juga merupakan tahun politik karena secara serentak akan dilangsungkan pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu), dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Artinya, untuk dua tahun ke depan rakyat Indonesia akan disuguhi tontonan yang pantas diberi judul ‘Pencitraan Calon Pemimpin’ dengan lakon dan dalil sebagai orang yang paling layak untuk dipilih.

Untuk itu, jangan heran kalau sekarang ini saja  bentuk pencitraan itu sudah mulai kentara terlihat, tidak terkecuali hanya sekedar dalam bentuk dialog dengan calon rakyat yang akan dipimpinnya jika terpilih, sampai memberikan bantuan dengan alasan bantuan untuk rakyat miskin dan sebagainya.

Disisi lain, tontonan pencitraan tahun politik ini juga pastinya nanti semangkin tidak karukaruan alur ceritanya karena akan terjadi saling serang, tidak saja antara penantang baru tetapi juga terhadap calon petahana, atau incumbent.

Nah dalam kondisi itu nanti, rakyat kalau tidak hati – hati menyikapi tontonan pencitraan tahun politik itu, justru bukan tidak mungkin menjadi ‘lolo’ atau bodoh karena alur cerita itu semuanya menunjukan yang terbaik untuk dipilih.

Selanjutnya, begitu juga terhadap calon petahana yang biasanya lebih mengakui kepemimpinan di periode keduanya bukan kepemimpinan yang ‘cobacoba’ seperti lawan politik itu.

Sehingga tidak heran, rakyat yang memiliki hak suara untuk memilih menjadi terbodohkan jika tidak hati-hati, dalam menyikapi siasat keberhasilan yang dilakonkan selama lima tahun sebelumnya itu.

Padahal, Ia terkadang lupa, rakyat masih ingat persoalan banjir yang tidak teratasi, rakyat masih ingat bagaimana rakusnya calon petahana itu terhadap proyek yang selama ini dikuasainya, dan begitu juga bagaimana keangkuhan dan kesombongan yang dipertontonkan terhadap rakyatnya, seakan ingin begitu saja disirnakan dalam ingatan itu.

Ingat, rakyat tidak lagi bodoh, apapun bentuk tontotan pencitraan menuju tahun politik, pastinya yang akan dipilih nanti merupakan pemimpin yang betul – betul mengabdikan jiwa raganya untuk mensejahterakan rakyatnya, dan bukan karena ingin menguasai uang rakyat lewat APBN maupun APBD itu. (***)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Verifikasi Bukan Robot *