Wartawan Menjadi Pilihan Hidup

Setelah menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1987 di Sekolah Pembangunan Nasional (Pemnas) Medan, Sumatera Utara, langsung memilih profesi sebagai seorang wartawan, dan itupun diputuskan sebagai pilihan hidup.

Awalnya, sejumlah surat kabar mingguan di Sumatera Utara, seperti Mingguan Demi Massa, Mingguan Taruna Baru, Mingguan Dobrak, sebagai titik awal masuk kedalam dunia kewartawan.

Berbeda dengan sekarang, memilih profesi wartawan begitu terbuka luas, terlebih lagi setelah munculnya penerbitan pers  bebas terbuka dengan mudahnya dan setelah Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) tidak lagi dibutuhkan.

Apalagi, sekarang ditambah dengan munculnya lembaga pemberitaan online (Media Online), hingga peluang untuk masuk kedalam dunia kewartawanan itu kian semakin mudahnya. Artinya dengan mudah kalau mau, langsung jadi, soal kualitas atau kemampuan tidaklah begitu dipandang perlu.

Padahal dulunya, dari seorang wartawan mingguan untuk masuk kemedia terbitan harian juga tidaklah mudah, ada sekat perbedaan yang mencolok ketika itu, antara wartawan mingguan yang disebut koran kuning dengan media harian yang jumlahnya juga tidaklah sebanyak sekarang ini.

Setelah berulang – ulang mencoba, akhirnya mendapat peluang menjadi wartawan di Harian Sumatera, dan barulah kembali masuk ke Harian Medan Bisnis, setelah hijrah ke Jambi, diterima masuk ke Harian Pelita Jakarta.

Sedangkan pada saat masih bermukim di Aceh yang sekarang daerah itu disebut sebagai daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sempat bekerja di Majalah Detektif Romantika sejak majalah itu berada di Groub Selecta hingga kemanajemen baru.

Selama di Majalah D&R, karena wilayah tugas di Aceh artinya peliputan khusus daerah konflik itu tidak dapat terelakan, yang akhirnya dihadapi banyak tekanan karena peliputan konflik berdarah Aceh itu.

Kini setelah era keterbukaan pers dengan mudahnya mendirikan penerbitan media, sehingga mencoba mendirikan Surat Kabar Media Regional, ternyata hanya bertahan sekitar 10 tahun dan itupun berulang kali terjadi tidak terbit, sehingga memutuskan bekerja di Harian Pelita Jakarta.

Sekarang, kembali mendirikan peneribitan pemberitaan media online, dengan nama Brandanews.Co.Id, kondisi sebelumnya dengan sekarang ini jauh sekali perbedaannya. Terkadang, karena begitu mudahnya cara kerja kewartawan sekarang ini sehingga ada perasaan masih wartawan kah aku sekarang ?

Inilah perubahan dalam dunia kewartawan itu. Tetapi yang jelas, apapun yang terjadi itu pastinya profesi wartawan yang digeluti selama ini hingga saat sekarang adalah pilihan hidup.

Mungkin ada yang tidak bisa dilakukan lagi, kalau dahulu ada niatan matipun cukup dikafani dengan kertas koran, tetapi kalau sekarang mungkin sudah tidak bisa lagi karena sarana baca hasil karya wartawan diwujudkan dengan sarana eletronik bukan lagi dengan lembaran kertas koran kebanyakan. (***)

Noer Faisal
Pemimpin Redaksi
Print Friendly, PDF & Email