Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda sudah lama beredar di ruang publik Indonesia, terutama setiap kali tanggal 21 April tiba. Di satu sisi, Kartini dipuja sebagai ikon emansipasi perempuan. Di sisi lain, muncul kecurigaan bahwa citra tersebut adalah konstruksi kolonial, dipoles agar ramah bagi kepentingan politik etis Belanda. Pertanyaannya, sejauh mana Kartini benar benar pejuang perempuan yang radikal, dan sejauh mana sosoknya telah “disunting” oleh kekuasaan kolonial untuk menciptakan figur yang jinak dan dapat dijadikan etalase kemajuan ala Barat
Kartini Diapit Dua Wajah Sejarah
Sebelum membahas lebih jauh soal Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda, penting untuk memahami bahwa Kartini hidup di persimpangan zaman. Ia lahir sebagai bangsawan Jawa di bawah kekuasaan Hindia Belanda, menikmati sedikit privilese pendidikan, namun tetap terbelenggu adat pingitan dan struktur patriarki yang kuat. Surat suratnya yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” sering dikutip sebagai bukti bahwa ia adalah pelopor feminisme di Nusantara.
Namun, di balik publikasi surat surat tersebut, terdapat peran kuat tokoh tokoh Belanda seperti JH Abendanon dan istrinya. Mereka yang memilih, menyunting, dan menerbitkan surat Kartini ke publik Eropa. Di titik inilah muncul kecurigaan: apakah Kartini yang kita kenal hari ini adalah Kartini apa adanya, atau Kartini versi yang sudah disesuaikan agar sejalan dengan agenda politik kolonial
“Sosok Kartini yang hadir di buku pelajaran sering terasa terlalu rapi, terlalu aman, seolah sudah disetrika agar tidak mengganggu wajah kolonialisme.”
Politik Etis dan Lahirnya Figur “Feminis Kolonial”
Di awal abad ke 20, Belanda meluncurkan Politik Etis, sebuah kebijakan yang diklaim sebagai “balas budi” kepada rakyat jajahan. Pendidikan untuk bumiputra, irigasi, dan transmigrasi menjadi tiga pilar utama. Dalam bingkai besar inilah Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda mulai bisa dibaca lebih tajam.
Kartini yang menulis tentang pentingnya pendidikan perempuan, tentang keinginannya memajukan bangsanya, menjadi figur yang sangat cocok untuk dijadikan simbol keberhasilan Politik Etis. Seorang perempuan Jawa, berterima kasih pada pendidikan Barat, tampak “tercerahkan” karena sentuhan Eropa. Bagi pemerintah kolonial, ini adalah materi propaganda yang sangat berharga.
Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda dalam Kebijakan Politik Etis
Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda sering dikaitkan dengan cara kolonial menampilkan diri sebagai “pembawa peradaban”. Dengan mengangkat Kartini sebagai ikon, Belanda dapat menunjukkan kepada dunia bahwa penjajahan mereka tidak semata eksploitasi, tetapi juga “mencerdaskan” bumiputra, khususnya perempuan. Kartini menjadi bukti hidup narasi itu, setidaknya dalam kacamata mereka.
Surat surat Kartini yang menyinggung kekaguman terhadap pemikiran Eropa, kritiknya pada adat feodal Jawa, serta harapannya pada pendidikan modern, dipilih secara selektif. Bagian bagian yang terlalu tajam mengkritik kolonialisme atau menunjukkan kemarahan pada struktur ketidakadilan berpotensi diredam atau diabaikan. Yang dipoles adalah sisi Kartini yang tampak selaras dengan wacana kemajuan ala Barat.
Dalam logika ini, feminisme yang dikaitkan dengan Kartini tidak dibiarkan menjadi feminisme yang mengguncang struktur kolonial. Ia lebih aman diposisikan sebagai feminisme moral: perempuan harus dididik agar menjadi ibu yang baik, istri yang cerdas, dan pendukung kemajuan keluarga. Semua itu bisa berjalan tanpa menggoyahkan dominasi Belanda atas Hindia.
Antara Emansipasi dan Kepentingan Kolonial
Jika kita menelisik teks teks asli surat Kartini, tampak jelas bahwa kegelisahannya melampaui sekadar isu perempuan. Ia berbicara tentang ketidakadilan, tentang nasib bangsanya, tentang kemiskinan dan keterbelakangan yang ia saksikan. Namun, dalam ingatan kolektif, Kartini lebih sering dibingkai sebagai pejuang pendidikan perempuan, bukan sebagai pengkritik struktur kolonial.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah citra Kartini sebagai feminis adalah refleksi utuh dari pemikirannya, atau hasil reduksi yang menguntungkan kolonial Dengan kata lain, Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda bisa jadi lahir dari proses panjang pengemasan sosok Kartini agar sesuai dengan kebutuhan wacana kekuasaan.
Kartini, Surat Suratnya, dan Tangan Penyunting Belanda
Surat surat Kartini tidak diterbitkan sendiri oleh Kartini. Ia meninggal muda pada usia 25 tahun. Naskah naskah yang kita baca hari ini adalah hasil seleksi dan penyuntingan orang lain, terutama Abendanon. Di sini, posisi pembaca modern menjadi rumit. Kita membaca Kartini melalui kacamata orang Belanda yang punya kepentingan politik dan ideologis.
Kartini menulis kepada sahabat sahabatnya di Belanda, mengungkapkan perasaan tertekan, marah, sekaligus penuh harap. Ia mengkritik adat pingitan, poligami, dan ketimpangan kelas. Namun, ketika surat itu dibawa ke ruang publik Eropa, ada proses penyesuaian. Bagian bagian yang menonjolkan kemanusiaan universal, kekaguman pada Eropa, dan keinginan akan pendidikan, cenderung diutamakan.
“Di antara baris baris surat Kartini, kita tidak hanya membaca suara seorang perempuan Jawa, tetapi juga bayangan tangan kolonial yang memilih mana yang pantas didengar dunia.”
Perayaan Hari Kartini dan Ingatan yang Dipoles
Setiap 21 April, sekolah sekolah di Indonesia merayakan Hari Kartini. Anak anak perempuan memakai kebaya, menggelar lomba busana tradisional, dan membaca kutipan kutipan populer dari surat Kartini. Namun, jarang sekali perayaan ini disertai diskusi kritis tentang bagaimana Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda terbentuk melalui sejarah panjang kolonialisme dan nasionalisme.
Pada masa Orde Baru, Kartini semakin diposisikan sebagai figur perempuan ideal: anggun, berpendidikan, namun tetap domestik dan tidak frontal menantang kekuasaan. Emansipasi diterjemahkan sebagai “boleh sekolah dan bekerja, tetapi tetap utama di rumah”. Kartini yang kompleks direduksi menjadi simbol yang patuh pada definisi negara tentang peran perempuan.
Di titik ini, warisan kolonial bertemu dengan kepentingan rezim nasional. Representasi Kartini yang jinak, tidak terlalu politis, dan lebih fokus pada moralitas keluarga, menjadi sangat berguna. Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda seolah bertransformasi menjadi Kesan Kartini Feminis Taktik Negara, meski tanpa menghapus jejak kolonial di belakangnya.
Membaca Ulang Kartini di Era Kini
Di era media sosial dan keterbukaan informasi, generasi muda mulai mempertanyakan narasi resmi tentang tokoh tokoh sejarah, termasuk Kartini. Muncul kajian kajian baru yang mengupas bagaimana kolonialisme membentuk citra tokoh pribumi, dan bagaimana kita bisa merebut kembali figur figur itu dari bingkai lama.
Membaca ulang Kartini bukan berarti menolak jasanya atau merendahkan perjuangannya. Justru sebaliknya, ini adalah upaya memulihkan Kartini sebagai manusia seutuhnya, dengan kemarahan, kekecewaan, dan keberaniannya yang mungkin selama ini disamarkan. Di sinilah kritik terhadap Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda menemukan relevansinya: kita diajak waspada terhadap bagaimana kekuasaan mengemas sosok perempuan pejuang.
Antara Feminisme Asli dan Feminisme Versi Kolonial
Istilah feminis sendiri baru belakangan dilekatkan pada Kartini. Pada zamannya, ia tidak menyebut dirinya demikian. Namun isi surat suratnya menunjukkan kesadaran tajam terhadap ketidakadilan gender. Pertanyaannya, apakah feminisme Kartini adalah feminisme yang menantang struktur kekuasaan secara menyeluruh, atau feminisme yang lebih terfokus pada akses pendidikan dan ruang gerak sosial
Kolonialisme cenderung nyaman dengan feminisme yang tidak menyoal akar eksploitasi ekonomi dan politik. Perempuan boleh maju, asalkan tidak mengganggu tatanan kolonial. Di sinilah Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda mendapat pijakan. Kartini dijadikan wajah cantik dari “kemajuan” yang diatur kolonial, sementara struktur penindasan tetap berdiri kokoh.
Tentu, ini tidak berarti Kartini sendiri adalah “alat” kolonial secara sadar. Yang lebih tepat, citra dirinya pasca wafatlah yang dimanfaatkan. Kartini sebagai simbol bisa digeser, dipoles, dan dibingkai ulang. Proses inilah yang perlu dikuliti agar kita tidak menelan mentah mentah versi resmi sejarah.
Kontestasi Makna Kartini di Tengah Gerakan Perempuan
Gerakan perempuan Indonesia hari ini tidak tunggal. Ada yang bergerak di isu buruh, kekerasan seksual, hak reproduksi, hingga representasi politik. Di tengah keragaman itu, sosok Kartini sering dijadikan rujukan, namun dengan tafsir yang berbeda beda. Sebagian melihat Kartini sebagai pintu masuk yang aman untuk bicara soal perempuan di ruang publik. Yang lain menganggap Kartini sudah terlalu dipolitisasi negara sehingga perlu dikritisi.
Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda menjadi relevan ketika kita menyadari bahwa figur sejarah selalu menjadi arena perebutan makna. Apakah Kartini hanya akan terus dikenang sebagai gadis bangsawan yang ingin sekolah dan menikah dengan cara lebih modern Atau ia bisa dibaca sebagai intelektual muda yang resah terhadap segala bentuk ketidakadilan, termasuk kolonialisme
Pertarungan tafsir ini tidak akan selesai dalam satu generasi. Namun, membuka ruang untuk mempertanyakan asal usul citra Kartini adalah langkah penting. Sebab, dengan memahami bagaimana kolonialisme membentuk cara kita memandang masa lalu, kita bisa lebih kritis dalam merumuskan masa kini.
Warisan Kartini di Tengah Bayang Bayang Kolonial
Pada akhirnya, pembahasan tentang Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda mengajak kita melihat dua hal sekaligus. Pertama, mengakui bahwa Kartini adalah sosok penting yang berani bersuara di tengah keterbatasan zamannya. Kedua, menyadari bahwa citra Kartini yang sampai kepada kita hari ini telah melalui proses panjang penyaringan, penyuntingan, dan pemaknaan ulang oleh kekuasaan, baik kolonial maupun nasional.
Membaca Kartini dengan kacamata kritis bukan untuk merobohkan patungnya, melainkan untuk menurunkan ia dari panggung yang terlalu tinggi dan terlalu steril, agar bisa kita lihat lebih dekat sebagai manusia. Dari situ, kita bisa memutuskan sendiri: mana Kartini yang lahir dari isi kepalanya, dan mana Kartini yang lahir dari Kesan Kartini Feminis Taktik Belanda yang dibangun sebagai bagian dari warisan propaganda koloni.


Comment