Bagi banyak muslim, hari Jumat identik dengan berkumpul di masjid, mendengarkan khutbah, lalu menunaikan shalat berjamaah. Namun tidak semua orang menyadari bahwa ada kebiasaan sepele yang bisa membuat pahala sholat Jumat hilang begitu saja, bahkan ketika seseorang sudah hadir di masjid dan ikut takbir bersama imam. Sebagian amalan yang tampak ringan ternyata punya konsekuensi berat terhadap nilai ibadah di sisi Allah.
Mengapa Pahala Sholat Jumat Hilang Bisa Terjadi Tanpa Disadari
Fenomena pahala sholat Jumat hilang tanpa disadari sering terjadi karena banyak jamaah hanya fokus pada kehadiran fisik, bukan kualitas ibadah. Mereka merasa “yang penting datang”, sementara adab, niat, dan perilaku sebelum serta saat khutbah berlangsung diabaikan. Padahal, sholat Jumat bukan sekadar pengganti sholat Zuhur, tetapi ibadah istimewa yang memiliki aturan dan tata krama khusus.
Sholat Jumat memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi yang meremehkannya, termasuk yang sering meninggalkannya tanpa uzur syar’i. Namun, yang sering luput dari perhatian adalah bahwa seseorang bisa jadi tidak meninggalkan sholat Jumat, tetapi tetap kehilangan pahala sempurnanya karena beberapa kebiasaan yang dianggap sepele.
“Yang paling berbahaya dari kebiasaan buruk adalah ketika kita merasa itu hal kecil, padahal di hadapan Allah bisa jadi itu penghapus pahala.”
Kebiasaan Berbicara Saat Khutbah: Pintu Lebar Pahala Sholat Jumat Hilang
Berbicara saat khutbah berlangsung adalah salah satu penyebab utama pahala sholat Jumat hilang menurut banyak penjelasan ulama. Masalah ini tampak sederhana, tetapi dalil yang menjelaskannya sangat tegas dan berulang.
Larangan Berbicara Saat Khutbah dan Konsekuensinya
Dalam beberapa hadis sahih disebutkan bahwa ketika khatib sudah naik mimbar dan mulai menyampaikan khutbah, jamaah diwajibkan diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan menegur orang lain yang sedang berbicara, dengan kata singkat seperti “diam” saja, dapat mengurangi nilai Jumatnya.
Artinya, jika ada orang yang sibuk mengobrol, bercanda, atau bahkan sekadar berkomentar pelan kepada temannya, ia telah melanggar adab penting dalam sholat Jumat. Di sinilah letak bahayanya. Banyak orang merasa, “Saya hanya bicara sebentar”, tetapi dalam pandangan syariat, tindakan itu cukup untuk menggugurkan keutamaan besar yang seharusnya ia dapatkan.
Berbicara saat khutbah juga menunjukkan kurangnya pengagungan terhadap syiar Allah. Khutbah Jumat bukan ceramah biasa, melainkan bagian dari rangkaian ibadah Jumat yang wajib diperhatikan. Mengabaikannya berarti meremehkan salah satu pilar penting ibadah hari Jumat.
Bentuk Bicara yang Sering Dianggap Remeh
Ada beberapa bentuk percakapan yang sering terjadi di masjid ketika khutbah berlangsung, dan semuanya berpotensi membuat pahala sholat Jumat hilang atau berkurang drastis.
Pertama, komentar ringan kepada teman di sebelah, misalnya menanggapi isi khutbah, menanyakan sesuatu, atau sekadar menyebut nama. Meski pelan, tetap termasuk berbicara yang tidak diperlukan.
Kedua, bercanda dan tertawa pelan. Ada jamaah yang datang berkelompok, duduk berdekatan, lalu sulit menahan diri untuk tidak saling berbisik. Terkadang satu kalimat kecil memicu tawa, meski ditahan, tetap mengganggu kekhusyukan.
Ketiga, menggunakan ponsel untuk menelepon atau menerima telepon. Selain mengganggu orang lain, tindakan ini jelas menunjukkan bahwa perhatiannya terpecah antara khutbah dan urusan dunia. Bahkan menulis pesan atau membalas chat saat khutbah berlangsung bisa termasuk perbuatan sia sia yang mengurangi nilai ibadah.
“Kalau khutbah Jumat tidak lagi mampu membuat kita menundukkan pandangan dan menahan lisan, mungkin masalahnya bukan pada khutbahnya, tetapi pada hati yang sudah terlalu bising.”
Datang Terlambat dan Mengabaikan Adab: Saat Pahala Sholat Jumat Hilang Sebelum Takbir
Kebiasaan datang terlambat ke masjid pada hari Jumat juga menjadi faktor penting yang bisa membuat pahala sholat Jumat hilang sebagian besar. Banyak yang baru bergegas ketika iqamah hampir dikumandangkan, seolah khutbah bukan bagian penting dari ibadah.
Keutamaan Datang Lebih Awal dan Ancaman Bagi yang Meremehkan
Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa malaikat mencatat orang yang datang lebih awal ke masjid pada hari Jumat, seakan membawa hadiah atau kurban terbaik. Semakin awal ia datang, semakin besar pahala yang dijanjikan. Namun, ketika khatib sudah naik mimbar dan khutbah dimulai, catatan itu ditutup. Artinya, orang yang datang setelah khutbah dimulai telah kehilangan keutamaan besar yang seharusnya ia dapatkan.
Di sinilah sering terjadi, seseorang merasa sudah “aman” karena sempat ikut sholat berjamaah, padahal ia telah kehilangan banyak pahala yang berkaitan dengan keutamaan hari Jumat. Dalam beberapa penjelasan ulama, datang terlambat bisa membuat pahala sholat Jumat hilang dalam arti tidak lagi mendapatkan ganjaran sempurna seperti mereka yang datang sejak awal.
Datang terlambat juga menunjukkan sikap meremehkan syiar Jumat. Jika untuk urusan kerja atau janji duniawi kita rela datang lebih awal, mengapa untuk ibadah yang begitu utama justru datang di akhir waktu
Kebiasaan yang Membuat Terlambat dan Cara Menghindarinya
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang sering membuat seseorang datang terlambat ke masjid pada hari Jumat. Pertama, menunda persiapan hingga mendekati waktu adzan. Padahal, mandi Jumat, memakai pakaian terbaik, dan bersiap menuju masjid membutuhkan waktu tersendiri.
Kedua, terlalu larut dalam urusan pekerjaan atau aktivitas lain, dengan alasan “sebentar lagi selesai”. Alasan sebentar ini sering berubah menjadi keterlambatan yang berulang setiap pekan. Tanpa disadari, ini menjadi pola yang menggerogoti kualitas ibadah Jumat seseorang.
Ketiga, sengaja memilih masjid yang jauh dengan perhitungan waktu yang mepet. Akhirnya terjebak macet atau hambatan lain di jalan. Sementara itu, ada masjid lebih dekat yang bisa dijangkau lebih cepat, tetapi tidak dipilih.
Mengubah kebiasaan ini membutuhkan kesadaran bahwa Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan momen penghapusan dosa dan pengumpulan pahala besar. Datang lebih awal bukan sekadar soal disiplin waktu, tetapi bentuk penghormatan terhadap perintah Allah.
Mengganggu Jamaah Lain: Saat Sikap Buruk Membuat Pahala Sholat Jumat Hilang Sia Sia
Kebiasaan sepele berikutnya yang sering membuat pahala sholat Jumat hilang adalah mengganggu jamaah lain, baik secara fisik maupun dengan perilaku yang tidak pantas. Gangguan ini bisa berupa bau tidak sedap, gerakan yang berlebihan, hingga mengambil tempat dengan cara kasar.
Bau Tidak Sedap dan Etika Kebersihan di Masjid
Salah satu gangguan yang paling sering dikeluhkan jamaah adalah bau tidak sedap yang berasal dari tubuh, pakaian, atau mulut seseorang. Datang ke masjid dengan bau rokok menyengat, keringat yang belum dibersihkan, atau mulut berbau makanan tajam seperti bawang, bisa mengganggu kekhusyukan orang di sekitarnya.
Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan dan kerapian ketika menghadiri sholat Jumat sangat ditekankan. Mandi Jumat, memakai pakaian bersih, menggunakan wewangian yang tidak berlebihan, semuanya termasuk sunnah yang dianjurkan. Mengabaikan ini bukan hanya mengurangi pahala, tetapi juga bisa menjadi sebab orang lain terganggu dan tidak khusyuk.
Ketika seseorang datang dengan bau yang mengganggu, ia bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga jamaah lain. Dalam kondisi seperti ini, pahala sholat Jumat hilang sebagian karena ibadah yang seharusnya membawa ketenangan justru menjadi sumber ketidaknyamanan.
Menerobos Saf, Mendorong, dan Mengambil Tempat Secara Kasar
Gangguan lain yang sering terjadi adalah kebiasaan menerobos saf dengan cara yang tidak sopan. Ada orang yang datang terlambat, lalu memaksa maju ke depan dengan menyela di antara jamaah, menginjak kaki, atau menyenggol orang yang sedang duduk khusyuk.
Perilaku seperti ini menunjukkan kurangnya adab terhadap sesama muslim. Padahal, menjaga hati dan kenyamanan orang lain termasuk bagian dari ibadah. Mengambil tempat dengan cara yang menyakiti atau mengganggu bisa menghapus banyak kebaikan yang sudah dilakukan sebelumnya.
Selain itu, ada pula yang sibuk bergerak kesana kemari, memainkan pakaian, atau menggeser posisi berulang kali tanpa kebutuhan mendesak. Gerakan berlebihan seperti ini mengganggu pandangan dan konsentrasi jamaah lain, terutama ketika khutbah sedang berlangsung.
Menghormati hak jamaah lain untuk beribadah dengan tenang adalah bagian dari kesempurnaan sholat Jumat. Ketika adab ini dilanggar, tidak mengherankan jika pahala sholat Jumat hilang dari sisi orang yang meremehkannya.
Menjaga Pahala Sholat Jumat Hilang Bukan Pilihan, Tapi Kewaspadaan
Menyadari bahwa pahala sholat Jumat hilang karena kebiasaan sepele seharusnya membuat setiap muslim lebih waspada. Ibadah yang hanya datang sekali sepekan ini memiliki posisi istimewa, sehingga sewajarnya dijaga dengan sungguh sungguh. Diam saat khutbah, datang lebih awal, menjaga kebersihan dan adab terhadap sesama jamaah adalah langkah dasar yang tidak boleh ditawar.
Pada akhirnya, kualitas sholat Jumat tidak hanya diukur dari hadir atau tidaknya kita di masjid, tetapi dari seberapa besar penghormatan yang kita tunjukkan terhadap seluruh rangkaian ibadah di dalamnya. Pahala yang besar selalu sebanding dengan kesungguhan dan kehati hatian dalam menjaganya.


Comment