Fenomena muslimah menahan ghibah grup chat menjadi tantangan baru di era ponsel pintar dan notifikasi tanpa henti. Obrolan ringan yang awalnya sekadar bercanda, sering berubah menjadi bahasan tentang aib, kekurangan, dan kesalahan orang lain, baik teman dekat, saudara, bahkan sesama anggota majelis taklim. Di ruang digital yang serba cepat, jari lebih dulu bergerak sebelum hati sempat mengingat Allah dan menimbang konsekuensi setiap kalimat yang diketik.
Godaan Sunyi di Balik Layar: Mengapa Ghibah di Grup Chat Begitu Menggoda?
Di balik layar ponsel, seseorang merasa lebih aman, lebih bebas, dan seolah tanpa pengawasan. Itulah mengapa muslimah menahan ghibah grup chat sering kali merasa perjuangannya lebih berat dibanding menahan ghibah dalam percakapan langsung. Tidak ada tatapan mata, tidak ada ekspresi wajah yang tersinggung, dan tidak ada jeda canggung ketika seseorang mulai membicarakan orang lain.
Grup chat keluarga, arisan, alumni, hingga grup kajian, semuanya bisa berubah menjadi ruang yang licin dan berbahaya. Awalnya ada yang curhat tentang sikap seseorang, lalu yang lain menimpali, menambah detail, memberi label, dan mengomentari karakter. Dalam hitungan menit, obrolan berubah menjadi sesi menguliti kehormatan saudara seiman.
“Di ruang chat, dosa sering terasa ringan karena kita lupa bahwa malaikat juga ‘online’ mencatat setiap huruf yang kita kirim.”
Faktor lain yang membuat ghibah di grup chat menggoda adalah rasa ingin tahu. Ketika ada yang menulis, “Kalian tahu tidak, si Fulanah kemarin itu…” hampir semua anggota grup terdorong untuk membaca, bahkan jika tidak ikut berkomentar. Rasa penasaran itu mendorong orang untuk tetap tinggal di percakapan, lalu diam diam menikmati aib yang dibongkar.
Antara Hukum dan Hati: Memahami Beratnya Ghibah di Era Digital
Sebelum jauh membahas strategi, penting untuk menegaskan kembali apa itu ghibah. Secara sederhana, ghibah adalah membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak suka jika ia mendengarnya, meski hal itu benar adanya. Di zaman chat, bentuknya bisa berupa teks, voice note, screenshot, hingga emoji yang menyiratkan ejekan.
Muslimah yang ingin bersungguh sungguh menjaga diri dari dosa, perlu menyadari bahwa menahan diri di ruang digital sama beratnya dengan menahan lisan di dunia nyata. Bahkan, muslimah menahan ghibah grup chat bisa jadi lebih berat, karena:
1. Jejak digital tersimpan dan bisa disebarkan lagi
2. Satu komentar bisa dibaca oleh puluhan bahkan ratusan orang
3. Dosa yang ditimbulkan bukan hanya antara dua orang, tetapi meluas pada semua yang terlibat
Jika lisan diibaratkan pedang, maka jari di atas layar adalah panah yang melesat cepat, sulit ditarik kembali. Sekali terkirim, pesan bisa di screenshot, di forward, dan diperbanyak tanpa izin pengirim pertama.
Jari atau Hati? Menimbang Pusat Kendali Seorang Muslimah
Pertanyaan besar yang muncul adalah, apakah cukup menahan jari untuk tidak mengetik, atau harus dimulai dari menata hati? Saat muslimah menahan ghibah grup chat, sering kali fokusnya hanya pada “jangan balas chat” atau “jangan ikut komentar”. Padahal, akar permasalahan ada di dalam hati.
Hati yang senang melihat aib orang lain, walau tidak ikut mengetik, tetap berada dalam bahaya. Ia mungkin tidak menambah kalimat, tetapi menikmati setiap detail yang dibongkar. Ia diam, namun matanya tidak beranjak dari layar, dan pikirannya ikut menilai, menghakimi, dan mengomentari dalam batin.
Di sisi lain, jari adalah eksekutor. Hati bisa saja bergejolak, tetapi ketika jari ditahan, kerusakan setidaknya tidak meluas kepada orang lain. Karena itu, perjuangan seorang muslimah ada di dua sisi sekaligus: membersihkan hati dari rasa senang pada keburukan orang lain, dan mengendalikan jari agar tidak ikut menyebarkan dosa.
“Menahan jari tanpa membersihkan hati hanya memindahkan ghibah dari layar ke dalam kepala. Yang dibutuhkan adalah keduanya bekerja sama: hati yang takut kepada Allah, jari yang patuh untuk berhenti.”
Grup Chat Sebagai Ladang Ujian: Muslimah Menahan Ghibah Grup Chat di Komunitas Sehari hari
Dalam banyak komunitas, terutama di kalangan perempuan, grup chat menjadi pusat informasi dan komunikasi. Ada grup ibu ibu sekolah, grup tetangga komplek, grup pengajian, hingga grup bisnis. Di sinilah muslimah menahan ghibah grup chat diuji secara nyata.
Seringkali, ghibah muncul dengan bungkus seolah peduli. Misalnya, membahas ibu yang jarang hadir rapat, tetangga yang anaknya sering pulang malam, atau anggota pengajian yang pakaian dan sikapnya dinilai tidak pantas. Topiknya tampak “penting” tetapi gaya penyampaiannya mengarah pada penilaian pribadi, cemooh, dan pembongkaran aib.
Lebih rumit lagi ketika ghibah dibungkus dengan istilah “sharing biar jadi pelajaran”. Padahal, jika benar ingin menjadi pelajaran, identitas orang yang dibahas semestinya dijaga, dan pembicaraan difokuskan pada solusi, bukan pada pengulangan aib.
Muslimah yang ingin menjaga diri perlu peka membedakan mana diskusi yang benar benar untuk kebaikan, dan mana yang hanya pelampiasan emosi dan rasa tidak suka. Peka di sini berarti berani bertanya dalam hati, “Jika orang yang dibicarakan ini hadir di grup, apakah aku masih akan menulis kalimat yang sama?”
Strategi Menjaga Diri: Langkah Nyata Muslimah Menahan Ghibah Grup Chat
Muslimah menahan ghibah grup chat tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan langkah konkret yang bisa dipraktikkan setiap hari. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
Pertama, latih refleks untuk tidak langsung membalas. Ketika ada topik yang mulai mengarah pada pembicaraan tentang orang lain, tahan diri beberapa menit. Jangan buru buru mengetik. Waktu jeda ini memungkinkan hati menimbang dan akal menilai apakah komentar kita bermanfaat atau justru menambah dosa.
Kedua, biasakan bertanya pada diri sendiri sebelum mengirim pesan:
Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik?
Jika salah satu jawabannya “tidak”, lebih aman untuk tidak mengirimkan apa pun.
Ketiga, alihkan percakapan dengan hal yang lebih netral dan bermanfaat. Misalnya, ketika grup mulai membahas kekurangan seseorang, kita bisa mengalihkan ke informasi kegiatan positif, pengumuman penting, atau bahkan sekadar mengingatkan dengan halus bahwa sebaiknya kita menjaga lisan dan tulisan.
Keempat, berani keluar dari percakapan tertentu. Tidak selalu harus keluar dari grup, tetapi bisa dengan memilih untuk tidak membaca lanjut, mengaktifkan mute, atau menggulir cepat tanpa ikut terlibat. Ini bentuk penjagaan diri sekaligus pengakuan bahwa iman kita lemah dan butuh jarak dari sumber dosa.
Kelima, bangun budaya saling mengingatkan. Jika suasana grup memungkinkan, muslimah yang lebih peka bisa menyisipkan pengingat lembut, misalnya dengan mengingatkan bahwa membahas aib orang lain tidak membawa kebaikan. Tentu dengan bahasa yang tidak menggurui, agar tidak menimbulkan konflik baru.
Menjaga Gengsi atau Menjaga Iman: Dilema Sosial di Grup Chat Perempuan
Di banyak grup, ada tekanan sosial yang tidak terlihat. Muslimah menahan ghibah grup chat sering merasa khawatir disebut sok suci, tidak asyik, atau tidak solid jika tidak ikut nimbrung. Apalagi jika yang memulai ghibah adalah sosok yang disegani di grup, seperti pengurus, orang yang dituakan, atau teman dekat.
Dilema ini membuat sebagian muslimah memilih diam tetapi tetap bertahan di percakapan, demi menjaga gengsi dan kenyamanan sosial. Namun, diam yang disertai keikutsertaan menikmati isi chat tetap perlu diwaspadai. Diam yang selamat adalah diam yang disertai penolakan dalam hati dan usaha menjauh dari dosa.
Menjaga iman kadang berarti berani terlihat berbeda. Mungkin kita jarang ikut bercanda berlebihan, tidak ikut menimpali gosip, atau sesekali mengingatkan dengan cara halus. Di awal, hal ini bisa terasa canggung. Namun, seiring waktu, sikap konsisten biasanya akan dihormati, meski tidak semua orang mengakuinya secara terang terangan.
Menata Grup Menjadi Ruang Aman: Muslimah Menahan Ghibah Grup Chat Sebagai Penggerak Kebaikan
Di sisi lain, grup chat sebenarnya bisa menjadi ladang pahala jika dikelola dengan baik. Muslimah menahan ghibah grup chat bukan hanya bertahan dari dosa, tetapi juga bisa menjadi penggerak perubahan suasana. Perempuan sering menjadi penentu iklim komunikasi di sebuah komunitas, termasuk di ruang digital.
Pengurus atau anggota aktif bisa mulai dengan menyepakati aturan tidak tertulis, misalnya menghindari menyebut nama saat membahas masalah, fokus pada solusi, dan mengurangi share konten yang berpotensi menyinggung pihak tertentu. Grup bisa diarahkan menjadi tempat saling menguatkan, berbagi ilmu, dan koordinasi kegiatan positif.
Selain itu, membiasakan berbagi hal yang mengingatkan pada nilai nilai kebaikan juga dapat membantu. Bukan berarti grup harus kaku dan serius setiap saat, tetapi ada keseimbangan antara canda dan nasihat. Ketika suasana grup terbiasa dengan hal yang sehat, ghibah akan terasa janggal dan sebagian orang akan segan memulainya.
Pada akhirnya, keberanian satu dua orang untuk konsisten menjaga adab tulisan dapat menginspirasi yang lain. Mungkin tanpa disadari, keteguhan itu menyelamatkan banyak orang dari terjerumus dalam dosa yang sama, hanya karena suasana grup tidak lagi memberi ruang nyaman bagi ghibah.


Comment