Rutinitas tidak biasa CEO AI Google belakangan menjadi sorotan karena pola hariannya yang jauh dari gambaran standar eksekutif kantoran. Alih alih sekadar bekerja dari pagi hingga sore, ia membagi harinya ke dalam dua blok waktu kerja yang intens, dengan jeda panjang di tengah hari untuk refleksi, belajar, dan mengisi ulang energi. Pola ini, yang terdengar radikal bagi banyak pekerja kantoran, justru diklaim membantu menjaga fokus, kreativitas, dan ketajaman dalam mengambil keputusan besar di dunia kecerdasan buatan yang bergerak sangat cepat.
Di Balik Rutinitas Tidak Biasa CEO AI Google
Kehidupan seorang pemimpin teknologi sering dibayangkan penuh rapat, presentasi, dan perjalanan lintas negara. Namun rutinitas tidak biasa CEO AI Google justru menunjukkan struktur hari yang sangat terukur, dengan prioritas utama pada energi mental, bukan sekadar jumlah jam kerja. Ia memulai hari lebih awal, sebelum gelombang email dan pesan masuk, untuk memberi ruang pada pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi.
Pada jam jam pertama pagi hari, fokus utamanya bukan rapat, melainkan membaca laporan teknis, mempelajari pembaruan riset AI, dan meninjau roadmap produk. Di titik ini, ia berusaha meminimalkan gangguan, bahkan dari tim terdekat sekalipun. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan bahwa keputusan strategis terbaik lahir dari periode hening, bukan dari ruang rapat yang bising.
“Dalam ekosistem teknologi yang bergerak secepat AI, waktu tenang sering kali lebih berharga daripada seribu pesan instan.”
Dua Waktu Kerja Dalam Sehari
Model dua waktu kerja yang diterapkan dalam rutinitas tidak biasa CEO AI Google pada dasarnya membagi hari menjadi dua sesi fokus utama. Sesi pertama berlangsung di pagi hari, biasanya dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir menjelang siang. Sesi kedua terjadi pada malam hari, setelah sebagian besar karyawan selesai bekerja dan ritme kantor mulai melambat.
Di antara dua waktu kerja ini, ia menyisihkan blok panjang beberapa jam untuk aktivitas yang tampak “tidak produktif” di permukaan, namun justru menopang produktivitas jangka panjang. Di sinilah ia berolahraga, berjalan kaki tanpa gawai, atau sekadar merenung dan menuliskan ide ide yang muncul spontan. Bagi banyak orang, pola ini tampak janggal, tetapi bagi pemimpin yang harus memikirkan arah AI global, jeda panjang di tengah hari menjadi ruang bernapas yang sangat diperlukan.
Bagaimana Dua Waktu Kerja Membentuk Fokus
Jika ditelaah lebih dekat, rutinitas tidak biasa CEO AI Google dengan dua waktu kerja ini sejalan dengan banyak riset tentang ritme sirkadian dan kemampuan otak. Pagi hari dimanfaatkan ketika otak masih segar untuk pekerjaan yang berat secara kognitif seperti membaca laporan teknis, meninjau arsitektur model AI, dan menilai risiko etis dari proyek baru. Pada jam jam ini, ia menghindari rapat rutin dan fokus pada pekerjaan mendalam.
Sementara itu, sesi malam hari lebih banyak terisi dengan koordinasi lintas zona waktu, diskusi strategi dengan tim global, dan percakapan dengan mitra eksternal. Malam hari dipilih karena banyak kantor di belahan dunia lain baru memasuki jam kerja, sehingga jendela komunikasi menjadi lebih luas. Di sisi lain, lingkungan yang lebih tenang pada malam hari membantu menjaga kualitas diskusi tetap fokus tanpa banyak gangguan internal.
Pagi Sunyi Sang Pengambil Keputusan AI
Sebelum sebagian besar karyawan menyalakan laptop, CEO AI Google sudah berada di depan layar, sering kali ditemani secangkir kopi dan tumpukan dokumen digital. Pagi sunyi ini bukan sekadar waktu baca biasa, melainkan jantung dari rutinitas tidak biasa CEO AI Google. Di jam jam ini, ia menelaah laporan performa model, memeriksa tren penggunaan produk, dan mengamati pergerakan kompetitor.
Ia juga memanfaatkan waktu pagi untuk berkontemplasi mengenai arah etika AI, mengingat setiap keputusan produk bisa berimbas pada miliaran pengguna. Dokumen yang dibaca tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga laporan regulasi, kebijakan publik, serta opini pakar eksternal. Dengan cara ini, perspektif teknis dan sosial dipertemukan sebelum keputusan diambil.
Jeda Panjang di Tengah Hari
Setelah blok kerja intens di pagi hari, ia sengaja menjauh dari layar. Di sinilah rutinitas tidak biasa CEO AI Google tampak paling kontras dengan jadwal eksekutif umumnya. Alih alih mengisi siang hari dengan rapat back to back, ia memilih jeda panjang untuk memulihkan energi dan memproses informasi.
Jeda ini kerap diisi dengan aktivitas fisik seperti lari ringan, bersepeda, atau sesi latihan singkat. Tujuannya bukan sekadar kesehatan fisik, tetapi juga menjaga kejernihan mental. Selain itu, ia meluangkan waktu untuk membaca buku non teknis, mulai dari sejarah, filsafat, hingga biografi tokoh. Bacaan ini menjadi sumber inspirasi untuk melihat AI bukan hanya sebagai teknologi, melainkan sebagai kekuatan yang mengubah cara hidup manusia.
“CEO teknologi yang mengelola AI tanpa meluangkan waktu untuk berpikir pelan pelan sedang bermain api di tengah hutan kering.”
Malam Tenang untuk Strategi Global
Memasuki malam, ketika sebagian besar aktivitas kantor mereda, sesi kerja kedua dimulai. Rutinitas tidak biasa CEO AI Google membuat jam malam berubah menjadi ruang strategis. Di sini, ia mengadakan panggilan video dengan tim di Amerika, Eropa, dan Asia, membahas perkembangan proyek, isu keamanan, dan peluang kolaborasi.
Malam hari juga menjadi momen untuk meninjau kembali keputusan yang sempat dipikirkan di pagi hari. Dengan jarak waktu beberapa jam dan jeda aktivitas fisik, ia bisa melihat ulang ide dengan sudut pandang yang lebih segar. Banyak keputusan penting, mulai dari peluncuran fitur AI hingga kebijakan transparansi model, dimatangkan pada jam jam ini ketika tekanan harian sudah mereda.
Menjaga Batas Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi
Dua waktu kerja dalam sehari berpotensi mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun dalam rutinitas tidak biasa CEO AI Google, batas ini dijaga dengan disiplin. Di luar dua blok waktu kerja yang jelas, ia berusaha benar benar hadir untuk keluarga dan kehidupan personal, meski porsinya tidak selalu seimbang.
Pengaturan jadwal dilakukan dengan sangat ketat. Rapat spontan di luar blok waktu yang sudah ditentukan sebisa mungkin dihindari, kecuali dalam situasi darurat. Pendekatan ini membantu mencegah kelelahan berkepanjangan dan memberi sinyal kepada tim bahwa waktu istirahat sama pentingnya dengan waktu kerja, bahkan di level tertinggi perusahaan.
Mengelola Tekanan di Puncak Industri AI
Memimpin divisi AI di perusahaan teknologi raksasa berarti berhadapan dengan tekanan besar, mulai dari ekspektasi investor hingga sorotan publik terkait isu privasi dan keamanan. Rutinitas tidak biasa CEO AI Google menjadi salah satu cara untuk mengelola tekanan tersebut. Dengan dua blok waktu kerja yang terpisah, ia memiliki ruang untuk memproses tekanan mental dan emosional secara bertahap, bukan sekaligus.
Selain itu, ia kerap berkonsultasi dengan pakar eksternal, baik dari kalangan akademisi maupun regulator, untuk memastikan langkah perusahaan tidak melenceng dari prinsip keamanan dan tanggung jawab. Proses konsultasi ini juga diintegrasikan ke dalam jadwal hariannya, sehingga keputusan tidak diambil secara tergesa gesa atau semata mata berdasarkan pertimbangan bisnis.
Inspirasi Bagi Pola Kerja Era AI
Meski tidak semua orang bisa meniru persis rutinitas tidak biasa CEO AI Google, pola dua waktu kerja dengan jeda reflektif di tengah hari memberi inspirasi bagi cara kerja era AI. Di tengah budaya kerja yang sering mengagungkan kesibukan tanpa henti, model ini menekankan pentingnya fokus mendalam, waktu hening, dan keseimbangan energi.
Bagi banyak pekerja pengetahuan, terutama di bidang teknologi, pelajaran yang bisa diambil adalah perlunya memisahkan jam kerja kreatif dan strategis dari jam kerja operasional. Alih alih menghabiskan hari dalam rapat dan email, menyisihkan blok waktu khusus untuk berpikir mendalam bisa menjadi pembeda antara kerja biasa dan kerja yang benar benar berdampak. Rutinitas seorang CEO AI mungkin tampak ekstrem, tetapi di balik keanehannya, tersimpan logika yang berusaha menyeimbangkan kecepatan inovasi dengan ketenangan berpikir.


Comment