Menginap di hotel kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup, baik untuk perjalanan bisnis, liburan keluarga, maupun sekadar staycation. Namun bagi seorang Muslim, menginap tetap beradab di hotel bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga menjaga adab, akhlak, dan nilai keislaman di ruang yang bukan milik sendiri. Di tengah fasilitas modern dan kebebasan yang ditawarkan, justru di sanalah ujian terbesar untuk tetap memegang prinsip.
“Ukuran keimanan seseorang sering kali terlihat bukan ketika ia diawasi, tetapi saat ia sendirian di kamar hotel yang terkunci rapat.”
Artikel ini mengupas secara rinci bagaimana seorang Muslim bisa menginap tetap beradab di hotel, mulai dari niat, adab sejak check in, penggunaan fasilitas, hingga cara menjaga diri dari hal yang syubhat. Bukan untuk menggurui, tetapi sebagai panduan praktis di tengah derasnya godaan dan kelalaian yang kerap muncul saat bepergian.
Niat yang Benar Sebelum Menginap Tetap Beradab di Hotel
Sebelum melangkah ke lobi hotel, seorang Muslim sebaiknya mengawali semuanya dengan niat yang lurus. Menginap tetap beradab di hotel dimulai dari hati, bukan dari kartu kunci kamar. Niat yang benar akan mengarahkan seluruh perilaku selama menginap, meski tak ada keluarga atau orang yang mengenal di sekeliling.
Bagi yang bepergian untuk urusan kerja, niatkan sebagai bagian dari mencari rezeki yang halal. Bagi yang berlibur, niatkan untuk menyegarkan badan dan pikiran agar lebih kuat beribadah dan bekerja setelahnya. Dengan niat seperti ini, aktivitas menginap bisa bernilai ibadah, bukan sekadar aktivitas duniawi.
Tidak kalah penting, sertakan doa saat hendak safar. Banyak orang sibuk memeriksa tiket dan koper, namun lupa memeriksa doanya. Padahal, doa safar bukan hanya melindungi perjalanan, tetapi juga menjaga diri dari hal yang tidak disadari selama berada di tempat asing.
Menjaga niat juga berarti menghindari tujuan menginap yang jelas melanggar syariat, seperti berdua di kamar dengan pasangan yang bukan mahram, atau sengaja memilih hotel tertentu demi “kebebasan” yang tidak pantas. Di titik ini, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi juga ketaatan.
Memilih Hotel yang Mendukung Menginap Tetap Beradab di Hotel
Memilih hotel sering kali hanya didasarkan pada harga, lokasi, dan fasilitas. Bagi Muslim, ada satu indikator tambahan yang penting, yaitu sejauh mana hotel tersebut mendukung upaya menginap tetap beradab di hotel. Tidak harus selalu hotel syariah, tetapi setidaknya ada beberapa pertimbangan yang patut diperhatikan.
Pertama, perhatikan kebijakan hotel terkait tamu menginap. Beberapa hotel syariah mewajibkan pasangan yang menginap untuk menunjukkan bukti pernikahan. Di hotel konvensional, aturan ini mungkin lebih longgar, tetapi seorang Muslim tetap berkewajiban memastikan dirinya tidak berada dalam situasi khalwat yang diharamkan.
Kedua, pertimbangkan kemudahan untuk beribadah. Apakah hotel menyediakan arah kiblat, apakah ada mushala di area publik, atau apakah lokasinya dekat dengan masjid. Di kota besar, banyak hotel yang kini lebih ramah terhadap kebutuhan tamu Muslim, meski tidak secara resmi berlabel syariah.
Ketiga, lingkungan sekitar hotel juga patut dipikirkan. Menginap di kawasan yang penuh hiburan malam, bar, dan klub bisa menempatkan diri pada suasana yang jauh dari ketenangan. Meski tidak ikut terlibat, suasananya mungkin mengganggu kekhusyukan ibadah dan ketenangan hati.
Pada akhirnya, memilih hotel bukan hanya soal bintang berapa, tetapi juga sejauh mana ia membantu menjaga iman dan adab selama menginap.
Adab Check In dan Interaksi dengan Staf saat Menginap Tetap Beradab di Hotel
Proses check in adalah titik pertama interaksi dengan staf hotel. Di sinilah sikap seorang Muslim diuji, apakah ia benar benar menerapkan konsep menginap tetap beradab di hotel atau hanya sekadar slogan. Sopan santun, kejujuran, dan menjaga pandangan menjadi poin penting.
Saat menyerahkan identitas, pastikan semua data yang diberikan benar. Mengakali jumlah tamu di kamar demi menghemat biaya, misalnya, adalah bentuk ketidakjujuran. Hotel memiliki aturan kapasitas kamar bukan semata mencari untung, tetapi juga terkait keamanan dan kenyamanan.
Berkomunikasi dengan resepsionis dan staf lain hendaknya dengan bahasa yang baik, tidak meninggikan suara, dan tidak mudah tersulut emosi meski mungkin terjadi kesalahan pihak hotel. Seorang Muslim sepatutnya menjadi contoh tamu yang tenang dan menghargai orang yang sedang bekerja.
Bagi pria, menjaga pandangan ketika berhadapan dengan staf lawan jenis yang mungkin berpakaian kurang tertutup juga merupakan bagian dari adab. Begitu pula bagi wanita, bersikap profesional dan menjaga jarak seperlunya adalah bentuk kehormatan diri.
Mengucapkan terima kasih ketika dibantu, menyapa dengan ramah, dan tidak memandang rendah staf hotel karena profesinya adalah bagian dari akhlak yang mulia. Adab bukan hanya di masjid, tetapi juga di lobi hotel.
Menata Kamar dan Mengawali Menginap Tetap Beradab di Hotel
Begitu pintu kamar terbuka, banyak Muslim yang memiliki kebiasaan tertentu sebelum benar benar menempati ruangan. Menginap tetap beradab di hotel bisa diawali dengan membaca doa masuk kamar dan mengucap basmalah. Sebagian orang juga memilih untuk mengucapkan salam, meski kamar itu tidak berpenghuni, sebagai bentuk adab dan permohonan perlindungan.
Beberapa tamu Muslim menyalakan lampu sejenak, membuka tirai, atau membuka sedikit jendela jika memungkinkan, untuk menghilangkan kesan pengap dan gelap. Ada juga yang langsung mengecek arah kiblat, jam shalat, dan menyiapkan sudut kecil di kamar sebagai tempat shalat agar lebih fokus.
Menata barang bawaan dengan rapi, tidak menaruh pakaian sembarangan, dan tidak memperlakukan kamar seperti ruang pribadi di rumah juga termasuk adab. Kamar hotel adalah fasilitas sewaan, bukan hak milik, sehingga penghormatan terhadap properti orang lain menjadi sangat penting.
Tidak sedikit yang lupa bahwa kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya atau mengembalikan posisi perabotan seperti semula adalah bentuk penghargaan kepada petugas kebersihan yang akan bekerja setelah kita check out.
“Cara seseorang memperlakukan kamar hotel sering kali menggambarkan bagaimana ia menghargai pekerjaan orang lain yang tidak pernah ia temui.”
Menjaga Ibadah Wajib dan Sunnah Saat Menginap Tetap Beradab di Hotel
Salah satu tantangan terbesar ketika bepergian adalah menjaga konsistensi ibadah. Menginap tetap beradab di hotel berarti menjadikan kamar bukan hanya tempat tidur, tetapi juga ruang ibadah sementara. Godaan kasur empuk dan suasana santai sering kali membuat shalat terlambat atau bahkan terlewat.
Langkah pertama adalah memastikan jadwal shalat. Di era ponsel pintar, aplikasi pengingat shalat sangat membantu. Segera setelah masuk kamar, tentukan sudut untuk shalat, periksa arah kiblat, dan siapkan sajadah. Jika hotel tidak menyediakan penanda kiblat, bisa menggunakan aplikasi kompas di ponsel.
Bagi yang bepergian untuk urusan kerja dengan jadwal padat, mengatur waktu antara agenda meeting dan shalat wajib menjadi ujian kedisiplinan. Menunda shalat hingga hampir habis waktu hanya karena terlalu larut dalam urusan dunia bisa menjadi kebiasaan buruk yang terbawa pulang.
Menghidupkan ibadah sunnah seperti shalat malam, membaca Al Quran, atau dzikir sebelum tidur juga bisa menjadikan menginap di hotel lebih bermakna. Di tengah kesibukan perjalanan, momen sendirian di kamar sebenarnya peluang emas untuk bermuhasabah tanpa gangguan.
Etika Menggunakan Fasilitas Hotel agar Tetap Beradab
Hotel menyediakan beragam fasilitas mulai dari televisi, minibar, kolam renang, hingga layanan kamar. Menginap tetap beradab di hotel menuntut tamu Muslim untuk bijak menggunakan semua fasilitas itu, bukan sekadar memanfaatkan tanpa batas.
Televisi, misalnya, sering kali menjadi sumber hiburan sekaligus pintu masuk konten yang tidak pantas. Menonton acara yang mengandung aurat terbuka, candaan vulgar, atau konten yang menjauhkan dari zikir dapat mengikis sensitivitas hati. Mengendalikan diri untuk memilih tontonan yang lebih bermanfaat adalah bagian dari jihad kecil di kamar hotel.
Minibar juga perlu diwaspadai. Banyak hotel menyimpan minuman beralkohol di dalam kamar. Seorang Muslim tidak hanya dilarang meminumnya, tetapi juga sebaiknya menghindari menyentuh atau mengutak atik isinya tanpa perlu. Jika khawatir anak anak penasaran, orang tua perlu memberi penjelasan dan mengawasi.
Fasilitas kolam renang dan pusat kebugaran juga menuntut kehati hatian, terutama terkait aurat dan bercampurnya laki laki dan perempuan. Jika hotel menyediakan jam khusus untuk wanita atau kolam terpisah, itu bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Menggunakan handuk, perlengkapan mandi, dan perabotan kamar dengan wajar, tidak berlebihan, dan tidak membawa pulang barang yang jelas bukan hak milik seperti handuk, pengering rambut, atau peralatan lain adalah bagian dari integritas. Suvenir kecil yang memang disediakan seperti sikat gigi atau sabun sekali pakai tentu berbeda hukumnya dengan barang inventaris.
Menjaga Pergaulan dan Privasi Saat Menginap Tetap Beradab di Hotel
Hotel adalah tempat bertemunya beragam orang dengan latar belakang berbeda. Menginap tetap beradab di hotel berarti menjaga batas pergaulan dan privasi, baik dengan sesama tamu maupun staf. Pintu kamar yang tertutup bukan alasan untuk berbuat bebas, tetapi justru amanah untuk menjaga diri.
Bagi pasangan yang sah, menginap bersama di hotel adalah hal yang wajar, namun tetap perlu menjaga suara, tidak berlebihan hingga mengganggu tamu lain. Bagi yang bepergian bersama rekan kerja lawan jenis, mengatur pembagian kamar yang terpisah adalah keharusan, bukan sekadar pilihan.
Mengundang orang yang tidak berkepentingan ke dalam kamar, apalagi lawan jenis yang bukan mahram, membuka peluang fitnah dan kesalahpahaman. Sebaiknya, jika perlu bertemu, pilih area publik seperti lobi atau restoran hotel.
Menjaga volume suara di kamar, tidak memutar musik terlalu keras, dan menghindari aktivitas yang mengganggu tetangga kamar juga bagian dari etika bertamu. Dinding hotel tidak selalu kedap suara, dan tidak semua orang menginap untuk bersenang senang. Banyak yang datang untuk beristirahat setelah perjalanan jauh atau bekerja keras.
Check Out dengan Adab, Menyelesaikan Menginap Tetap Beradab di Hotel
Saat waktu menginap berakhir, proses check out sering dipandang sekadar formalitas. Padahal, menginap tetap beradab di hotel juga tercermin dari bagaimana seseorang menutup masa inapnya. Meninggalkan kamar dalam keadaan terlalu berantakan, sampah berserakan, dan barang berserakan seakan kamar itu bukan lagi urusannya adalah sikap yang patut dikoreksi.
Merapikan tempat tidur sebisanya, mengumpulkan sampah pada satu tempat, dan memastikan tidak ada barang tertinggal adalah bentuk tanggung jawab. Jika ada fasilitas yang secara tidak sengaja rusak, menyampaikannya di resepsionis dengan jujur jauh lebih terhormat daripada pura pura tidak tahu.
Saat membayar tagihan, periksa kembali rincian biaya. Jika ternyata ada konsumsi minibar atau layanan lain yang tidak digunakan namun tercatat, sampaikan dengan tenang dan jelas. Sebaliknya, jika merasa pernah menggunakan sesuatu yang mungkin belum tercatat, kejujuran untuk mengakuinya akan menjadi catatan baik di hadapan Allah, meski mungkin tidak ada yang mengetahuinya.
Mengucapkan terima kasih kepada staf, dari resepsionis hingga petugas keamanan di pintu keluar, menutup rangkaian menginap dengan akhlak yang baik. Bagi seorang Muslim, meninggalkan kesan baik di mana pun ia singgah adalah bagian dari dakwah tanpa kata. Menginap di hotel pun bisa menjadi ladang pahala, jika diiringi adab dan kejujuran sejak check in hingga melangkah keluar pintu terakhir.


Comment