8 Kesalahan Saat Menangani Keracunan Anak yang Bisa Memperburuk Kondisi Keracunan pada anak dapat terjadi dalam hitungan detik ketika obat, cairan pembersih, pestisida, bahan bakar, kosmetik, atau bahan kimia rumah tangga berada dalam jangkauan. Reaksi pertama orang tua sering menentukan langkah berikutnya, tetapi kepanikan justru dapat mendorong tindakan yang selama bertahun tahun dianggap benar meskipun sekarang tidak lagi dianjurkan.
Keracunan tidak selalu terjadi karena sesuatu tertelan. Bahan berbahaya dapat masuk melalui pernapasan, mengenai mata, menempel pada kulit, atau tertelan secara tidak sengaja. Pedoman Kementerian Kesehatan mengenai penatalaksanaan keracunan menekankan pentingnya menilai kondisi yang mengancam nyawa, menjaga fungsi pernapasan dan sirkulasi, melakukan dekontaminasi sesuai jenis paparan, serta memantau perubahan keadaan pasien.
Anak yang tidak sadar, kejang, sulit bernapas, tidak dapat dibangunkan, atau mengalami gangguan pernapasan berat membutuhkan pertolongan darurat. Di Indonesia, masyarakat dapat menghubungi layanan kegawatdaruratan kesehatan PSC 119.
Masalahnya, sejumlah tindakan rumahan justru dapat meningkatkan risiko tersedak, melukai saluran cerna, atau membuat penanganan medis terlambat. Delapan kesalahan berikut menjadi hal yang perlu diketahui orang tua sebelum menghadapi keadaan tersebut.
Menurut penulis, pengetahuan pertolongan pertama keracunan sebaiknya dimiliki sebelum kejadian terjadi. Saat anak sudah terpapar bahan berbahaya, waktu yang tersedia untuk mencari informasi dan memilah mitos biasanya sangat terbatas.
1. Memaksa Anak Muntah setelah Menelan Racun
Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah memasukkan jari ke tenggorokan atau menggunakan bahan tertentu agar anak segera muntah. Logikanya terdengar sederhana, yakni racun yang baru masuk harus dikeluarkan kembali secepat mungkin. Namun, cara tersebut dapat menimbulkan masalah baru.
Poison Control secara tegas tidak menganjurkan memicu muntah pada seseorang yang menelan bahan beracun. Sirup ipecac yang dahulu digunakan untuk membuat pasien muntah juga tidak lagi direkomendasikan sebagai pertolongan keracunan di rumah.
Salah satu bahayanya adalah aspirasi. Isi lambung dapat masuk ke saluran pernapasan ketika anak muntah, terutama jika kesadarannya mulai menurun. Beberapa zat seperti bensin dan cairan hidrokarbon sangat berbahaya apabila masuk ke paru karena dapat menimbulkan iritasi dan gangguan pernapasan serius.
Bahan korosif juga dapat kembali melukai kerongkongan dan mulut ketika dimuntahkan. Zat yang sebelumnya sudah melewati kerongkongan akan kembali melewati jalur yang sama.
Karena itu, jangan membuat anak muntah kecuali tenaga kesehatan yang menangani kasus secara khusus memberikan instruksi tersebut. Informasi mengenai bahan yang tertelan jauh lebih penting untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2. Langsung Memberikan Susu, Air, atau Makanan dalam Jumlah Banyak
Susu sering dianggap sebagai penawar racun universal. Ketika seorang anak tidak sengaja menelan cairan pembersih atau obat, orang tua dapat terburu buru memberikan beberapa gelas susu dengan harapan racun menjadi encer.
Tidak ada satu minuman yang cocok untuk seluruh jenis keracunan. NHS bahkan menyarankan tidak memberikan makanan atau minuman sambil menunggu pertolongan pada dugaan keracunan tanpa arahan tenaga kesehatan.
Pada bahan tertentu yang bersifat mengiritasi atau korosif, petugas keracunan dapat menyarankan sedikit air atau susu apabila korban sadar penuh, tidak mengalami kejang, dan mampu menelan. Namun, rekomendasi tersebut sangat bergantung pada jenis produk serta kondisi pasien.
Kesalahan terjadi ketika aturan khusus itu dianggap berlaku untuk semua kasus.
Memberikan cairan dalam jumlah besar juga berbahaya apabila anak muntah, mengantuk, kejang, atau kesadarannya menurun. Cairan dapat masuk ke jalan napas.
Orang tua sebaiknya tidak mencoba menetralkan seluruh zat dengan makanan tertentu. Catat apa yang tertelan dan ikuti arahan tenaga kesehatan berdasarkan jenis bahan, jumlah perkiraan, usia, berat badan, serta keadaan anak.
3. Memberikan Arang Aktif Sendiri di Rumah
Arang aktif memang digunakan dalam dunia medis untuk beberapa jenis keracunan. Kemampuannya mengikat zat tertentu di saluran cerna membuat bahan ini sering dianggap sebagai pertolongan yang dapat diberikan sendiri.
Namun, arang aktif tidak bekerja pada seluruh racun. Penggunaan yang tepat juga membutuhkan pertimbangan jenis zat, jumlah, waktu paparan, serta kemampuan pasien menjaga jalan napas.
Poison Control tidak menyarankan orang tua menangani keracunan sendiri dengan produk arang aktif yang dijual bebas. Dosis medis dapat jauh berbeda dengan tablet yang tersedia di pasaran, sedangkan pasien yang membutuhkan arang aktif biasanya perlu dipantau di fasilitas kesehatan.
Arang dari roti yang dibakar atau arang untuk memanggang juga bukan pengganti arang aktif medis. Memberikannya kepada anak justru dapat menunda pertolongan yang lebih sesuai.
Dokter dapat menggunakan arang aktif apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya. Keputusan tersebut tidak dapat dibuat hanya berdasarkan anggapan bahwa anak baru menelan sesuatu yang berbahaya.
4. Mencoba Menetralkan Bahan Kimia dengan Cuka atau Cairan Lain
Mitos lain yang masih ditemukan adalah memberikan zat asam setelah anak menelan bahan bersifat basa atau memberikan zat basa setelah tertelan cairan asam. Sebagian orang memakai cuka, air lemon, soda kue, atau bahan rumah tangga lainnya.
Cara tersebut tidak dianjurkan sebagai tindakan mandiri.
MedlinePlus memperingatkan agar orang yang mengalami keracunan tidak diberi lemon, cuka, atau bahan lain untuk mencoba menetralkan racun kecuali tenaga medis secara khusus memberikan instruksi.
Reaksi kimia antara dua bahan dapat menghasilkan panas atau gas. Saluran pencernaan yang sudah terkena bahan korosif berisiko mengalami cedera tambahan.
Orang tua juga biasanya tidak mengetahui konsentrasi dan komposisi sebenarnya dari bahan yang tertelan. Label seperti pembersih lantai, pembersih toilet, pemutih, atau cairan pembersih saluran belum cukup untuk menentukan tindakan kimia secara mandiri.
Langkah yang lebih aman adalah mempertahankan kemasan produk dan mencari pertolongan medis. Informasi mengenai nama produk dan bahan aktif membantu petugas menentukan tindakan yang sesuai.
5. Menunggu Gejala Muncul karena Anak Masih Terlihat Sehat
Anak yang baru menelan obat atau bahan kimia terkadang masih terlihat bermain seperti biasa. Hal tersebut dapat membuat orang tua memilih menunggu beberapa jam sebelum meminta pertolongan.
Ini menjadi salah satu keputusan yang berisiko.
Gejala keracunan tidak selalu muncul seketika. MedlinePlus menjelaskan bahwa tanda keracunan tertentu dapat berkembang secara perlahan atau baru muncul beberapa jam setelah paparan. Karena itu, ketiadaan keluhan pada menit pertama bukan jaminan bahwa zat tersebut aman.
Beberapa obat dapat diserap secara bertahap. Bahan lain dapat menyebabkan cedera jaringan sebelum anak mengeluhkan rasa sakit yang jelas.
Baterai kancing menjadi contoh benda yang membutuhkan perhatian cepat apabila tertelan. Baterai yang tersangkut di kerongkongan dapat menyebabkan cedera serius dan umumnya membutuhkan pemeriksaan radiologi segera untuk mengetahui posisinya. Memicu muntah juga tidak dianjurkan.
Obat milik orang dewasa, pestisida, cairan hidrokarbon, nikotin cair, bahan korosif, serta bahan kimia industri juga tidak sebaiknya ditangani dengan menunggu anak menunjukkan keluhan.
Segera cari saran medis apabila ada alasan kuat untuk menduga anak menelan, menghirup, atau terkena zat beracun.
6. Membuang Kemasan dan Membersihkan Semua Bukti Paparan
Dalam kepanikan, orang tua dapat langsung membuang botol yang terbuka, mencuci tempat kejadian, atau memasukkan seluruh obat ke tempat sampah. Padahal, kemasan dapat memberikan informasi penting kepada dokter.
NHS menganjurkan mencari produk yang mungkin menyebabkan keracunan dan membawa kemasan, wadah, atau obat tersebut ke fasilitas kesehatan apabila memungkinkan.
Informasi yang berguna meliputi nama produk, bahan aktif, konsentrasi, ukuran kemasan, jumlah yang tersisa, waktu kejadian, serta perkiraan jumlah yang tertelan.
Untuk obat, periksa nama obat dan kekuatan dosis pada kemasan. Tablet 500 miligram tentu berbeda dari tablet 50 miligram meskipun nama obatnya sama.
Apabila anak muntah secara spontan, jangan memaksa muntah tambahan. Tenaga kesehatan terkadang juga membutuhkan informasi mengenai isi muntahan untuk membantu memperkirakan bahan yang tertelan.
Orang tua dapat memotret kemasan jika membawa botol besar atau bahan berbahaya ke rumah sakit tidak aman. Jangan memindahkan cairan kimia ke botol minuman hanya untuk membawanya karena tindakan tersebut dapat menimbulkan paparan baru.
7. Salah Menangani Racun yang Mengenai Mata atau Kulit
Keracunan melalui kulit dan mata membutuhkan pendekatan berbeda dari bahan yang tertelan. Kesalahan yang sering terjadi adalah mengoleskan minyak, salep, pasta gigi, bedak, atau bahan lainnya sebelum zat berbahaya dibersihkan.
Jika bahan kimia mengenai kulit, pakaian yang terkontaminasi perlu dilepaskan dengan hati hati dan area tersebut dibilas dengan air mengalir. Untuk paparan organofosfat, IDAI menganjurkan mencuci kulit dengan sabun dan air serta mengganti pakaian yang terkena bahan.
Apabila mata terkena, pembilasan perlu dimulai segera. Poison Control menyarankan irigasi mata dengan air bersuhu nyaman dan melepas lensa kontak apabila ada. Penundaan pembilasan dapat memperbesar cedera.
Jangan menggosok mata karena gesekan dapat memperparah iritasi pada jaringan yang sudah terpapar.
Penolong juga harus melindungi dirinya. Pada pestisida dan bahan kimia tertentu, sarung tangan dapat diperlukan ketika melepas pakaian korban atau membersihkan zat yang menempel. Poison Control mengingatkan bahwa orang yang membantu dapat ikut terkontaminasi apabila tidak melindungi diri.
Pakaian yang terkena bahan kimia sebaiknya dipisahkan dari pakaian lain agar zat tidak berpindah kepada anggota keluarga.
8. Memberikan Sesuatu lewat Mulut Saat Anak Mengantuk atau Tidak Sadar
Kesalahan terakhir termasuk yang paling berbahaya. Orang tua yang panik dapat mencoba memberikan air, susu, obat, atau makanan kepada anak yang mulai mengantuk karena berharap kondisi segera membaik.
Jangan memasukkan apa pun melalui mulut kepada anak yang tidak sadar atau mengalami penurunan kesadaran. MedlinePlus secara tegas menyebut orang yang tidak sadar tidak boleh diberi sesuatu melalui mulut.
Anak yang muntah, kejang, atau tidak mampu menelan juga berisiko tersedak apabila dipaksa minum.
Jika anak tidak sadar tetapi masih bernapas, posisi tubuh harus dijaga agar jalan napas tetap aman sembari menunggu bantuan medis. Jika anak tidak bernapas, bantuan hidup dasar perlu dilakukan oleh orang yang mengetahui caranya sambil menghubungi layanan darurat.
NHS memasukkan hilang kesadaran, berhenti bernapas, kesulitan bernapas berat, serta kejang sebagai kondisi yang memerlukan pertolongan darurat.
Pada keracunan pestisida tertentu, muntahan dan cairan tubuh juga dapat membawa sisa bahan. IDAI mengingatkan penolong agar menjaga jalan napas sekaligus menghindari paparan racun ketika memberikan bantuan.
Kenali Tanda Keracunan Berat pada Anak
Gejala keracunan sangat beragam karena bergantung pada bahan, dosis, cara masuk, usia, serta berat badan anak. Ada zat yang terutama memengaruhi saluran pencernaan, sementara bahan lain menyerang sistem saraf, jantung, paru, hati, atau ginjal.
Orang tua harus memberikan perhatian khusus apabila anak mengalami kesulitan bernapas, kebiruan, penurunan kesadaran, kejang, muntah berulang, kelemahan berat, gangguan berjalan, perubahan perilaku mendadak, luka bakar di sekitar mulut, atau produksi air liur yang berlebihan.
Pada keracunan organofosfat, misalnya, IDAI menjelaskan bahwa paparan dapat menghasilkan gangguan pernapasan dan produksi lendir yang berlebihan sehingga penilaian jalan napas menjadi bagian penting dalam pertolongan.
Anak yang mengalami gejala berat tidak sebaiknya dibawa menggunakan kendaraan pribadi apabila kondisinya tidak stabil dan layanan ambulans dapat dijangkau. Hubungi PSC 119 atau fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh arahan.
Paparan Racun melalui Udara Juga Membutuhkan Tindakan Cepat
Keracunan tidak selalu berawal dari botol yang diminum. Asap, gas, pestisida semprot, karbon monoksida, serta uap bahan kimia dapat masuk melalui saluran pernapasan.
Poison Control menyarankan korban paparan racun melalui udara segera dipindahkan ke tempat dengan udara segar apabila hal tersebut dapat dilakukan secara aman. Area yang mengandung gas beracun juga perlu dihindari oleh penolong.
Jangan masuk ke ruangan yang penuh gas hanya karena ingin menarik anak keluar apabila tindakan tersebut membuat penolong ikut kehilangan kesadaran. Pada kebocoran bahan tertentu, bantuan petugas yang mempunyai alat pelindung lebih aman.
Setelah berada di udara segar, periksa pernapasan dan kesadaran anak. Batuk berat, sesak, perubahan warna kulit, pusing berat, atau penurunan kesadaran memerlukan pemeriksaan segera.
Paparan asap kebakaran juga tidak boleh dianggap selesai hanya karena anak sudah keluar dari bangunan. Gangguan pernapasan dapat membutuhkan evaluasi medis meskipun luka bakar pada kulit tidak terlihat.
Keracunan Makanan Memiliki Penanganan yang Berbeda
Istilah keracunan juga digunakan pada penyakit akibat makanan yang tercemar bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia. Keadaan ini berbeda dari anak yang menelan cairan pembersih atau obat dalam jumlah berlebihan.
Kementerian Kesehatan menyebut keracunan makanan dapat menimbulkan mual, muntah, pusing, dan gangguan saluran pencernaan. Pada kondisi yang tidak berat, cairan dapat diberikan sedikit demi sedikit untuk mengganti kehilangan akibat muntah atau diare. Gejala yang memburuk perlu mendapatkan penanganan fasilitas kesehatan.
Karena itu, saran memberikan oralit kepada anak dengan diare akibat makanan tidak boleh diterapkan begitu saja pada anak yang menelan bahan kimia rumah tangga.
Jenis paparan harus diketahui terlebih dahulu. Istilah keracunan mencakup banyak keadaan yang membutuhkan tindakan berbeda.
Jangan Memberikan Obat Antimuntah tanpa Arahan
Ketika anak muntah setelah diduga keracunan, orang tua terkadang memberikan obat antimuntah yang tersimpan di rumah. Langkah ini dapat menutupi perkembangan gejala dan belum tentu sesuai dengan penyebabnya.
IDAI menjelaskan obat antimuntah pada anak sebaiknya diberikan apabila memang diperlukan setelah mempertimbangkan manfaat serta risikonya. Muntah yang disertai gangguan pernapasan, kelemahan, tanda kekurangan cairan, sakit perut, atau berlangsung terus memerlukan penilaian lebih lanjut.
Pada dugaan keracunan, keputusan pemberian obat menjadi lebih rumit karena tenaga medis perlu mengetahui bahan yang masuk serta keadaan kesadaran anak.
Jangan menggunakan obat milik saudara atau obat resep lama tanpa petunjuk. Dosis obat anak biasanya dihitung berdasarkan berat badan dan penyakit yang sedang ditangani.
Informasi Ini Sebaiknya Disiapkan Sebelum Menghubungi Tenaga Medis
Ketika meminta bantuan, orang tua dapat mempercepat penilaian dengan menyiapkan informasi yang teratur. Tidak perlu menunggu seluruh informasi terkumpul apabila anak sedang dalam keadaan gawat.
Informasi utama yang berguna meliputi usia anak, berat badan apabila diketahui, nama produk, kandungan, konsentrasi, perkiraan jumlah yang tertelan atau terkena, waktu kejadian, serta keluhan yang sudah muncul.
MedlinePlus juga menyarankan menyiapkan wadah atau botol racun, usia dan berat korban, nama produk, waktu paparan, serta jumlah yang diperkirakan tertelan.
Sampaikan pula apakah anak telah muntah, diberi makanan atau minuman, serta tindakan lain yang sudah dilakukan. Informasi yang lengkap membantu tenaga kesehatan menilai risiko dengan lebih cepat.
Jangan menyembunyikan kesalahan karena takut dimarahi. Bila sebelumnya anak sempat dibuat muntah atau diberikan obat tertentu, dokter perlu mengetahuinya.
Menurut penulis, dalam keadaan keracunan, informasi yang akurat sering lebih berguna daripada mencoba berbagai cara rumahan. Nama zat, jumlah, waktu kejadian, dan kondisi anak memberi tenaga medis dasar yang jauh lebih kuat untuk menentukan pertolongan.
Obat dan Bahan Kimia Harus Tetap dalam Kemasan Asli
Pencegahan menjadi sangat penting karena balita mengenali lingkungan dengan menyentuh dan memasukkan benda ke mulut. Cairan berwarna cerah juga dapat terlihat seperti minuman apabila disimpan dalam botol bekas air mineral.
Bahan pembersih, pestisida, cairan kendaraan, dan obat harus tetap berada dalam wadah asli dengan label yang dapat dibaca. Jangan memindahkan bensin, minyak tanah, pemutih, atau cairan pembersih ke botol minuman.
IDAI menganjurkan bahan rumah tangga yang mengandung organofosfat dijauhkan dari jangkauan anak dan disimpan pada wadah yang tidak mudah dibuka oleh mereka.
Obat sebaiknya disimpan di lemari tertutup yang tidak dapat dijangkau anak, bukan hanya ditempatkan di meja tinggi. Anak dapat memanjat kursi atau meja ketika tertarik pada kemasan.
Jangan menyebut obat sebagai permen untuk membujuk anak meminumnya. Anak dapat mengingat penyebutan tersebut dan mencoba mengambil obat ketika orang dewasa tidak mengawasi.
Setelah menggunakan cairan pembersih atau obat, kemasan perlu segera ditutup dan dikembalikan ke tempat penyimpanan. Banyak kejadian keracunan berlangsung saat orang dewasa meninggalkan produk terbuka hanya selama beberapa menit untuk menjawab telepon, membuka pintu, atau mengambil barang lain.


Comment