izin tambang ormas keagamaan
Home / Bisnis / Izin Tambang Ormas Keagamaan, Jokowi Beberkan Syarat Ketat

Izin Tambang Ormas Keagamaan, Jokowi Beberkan Syarat Ketat

Polemik seputar izin tambang ormas keagamaan mendadak menjadi salah satu isu paling panas di ruang publik Indonesia. Kebijakan yang membuka peluang organisasi massa berbasis agama untuk mengelola wilayah izin usaha pertambangan ini memicu perdebatan tajam, dari ruang sidang DPR hingga warung kopi. Di tengah kritik dan kekhawatiran, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan syarat ketat dan mekanisme pengawasan berlapis agar kebijakan ini tidak berubah menjadi ladang masalah baru bagi lingkungan, masyarakat, maupun dunia politik.

Peta Kebijakan Baru Izin Tambang Ormas Keagamaan di Era Jokowi

Kebijakan pemberian izin tambang ormas keagamaan berangkat dari perubahan regulasi yang memungkinkan organisasi kemasyarakatan berbadan hukum untuk menjadi pemegang Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus atau WIUPK. Pemerintah beralasan, langkah ini merupakan upaya pemerataan manfaat sumber daya alam agar tidak hanya dinikmati korporasi besar, tetapi juga organisasi yang dinilai memiliki basis sosial kuat di akar rumput.

Dalam skemanya, ormas keagamaan tidak serta merta langsung menggali tambang sendiri. Mereka dapat menggandeng mitra perusahaan, membentuk badan usaha, atau mengelola melalui lembaga ekonomi yang dimiliki. Namun status pemegang izin berada di tangan ormas, bukan di perusahaan mitra. Di atas kertas, pola ini diharapkan memberi posisi tawar lebih kuat bagi ormas agar tidak sekadar menjadi “stempel” atau kedok bisnis.

Pemerintah juga menegaskan bahwa wilayah yang akan digarap ormas adalah WIUPK eks Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara yang sudah berakhir, sehingga tidak mengganggu izin yang masih berlaku. Namun di lapangan, banyak pihak mempertanyakan sejauh mana pemetaan ini benar benar mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan keterlibatan masyarakat lokal.

Syarat Ketat Versi Jokowi untuk Izin Tambang Ormas Keagamaan

Presiden Joko Widodo berulang kali menegaskan bahwa izin tambang ormas keagamaan tidak akan diberikan sembarangan. Menurutnya, ada serangkaian syarat ketat yang harus dipenuhi sebelum sebuah ormas bisa mengelola tambang. Syarat ini mencakup aspek legalitas, kapasitas pengelolaan, tata kelola organisasi, hingga rekam jejak ormas di ruang publik.

Demo Tolak Revisi UU Pilkada, Komika hingga Mahasiswa Serbu DPR

Salah satu poin yang disorot adalah kewajiban ormas memiliki badan hukum yang jelas serta struktur organisasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah juga menekankan pentingnya kerja sama dengan pihak yang memiliki keahlian teknis di bidang pertambangan, termasuk soal keselamatan kerja, pengelolaan limbah, dan reklamasi pasca tambang. Dengan kata lain, ormas tidak boleh hanya meminjam nama untuk kepentingan bisnis pihak ketiga.

Selain itu, pemerintah mengisyaratkan akan melihat rekam jejak ormas dalam menjaga kerukunan dan stabilitas sosial. Ormas yang kerap terlibat konflik, kekerasan, atau memiliki catatan buruk dalam hal radikalisme disebut tidak akan diprioritaskan, bahkan bisa saja tidak diberi akses sama sekali. Namun mekanisme penilaian rekam jejak ini masih menjadi pertanyaan, mengingat potensi subjektivitas dan tarik menarik kepentingan politik.

“Memberi izin tambang kepada ormas keagamaan tanpa standar seleksi yang transparan sama saja menabur bara di ladang kering, yang sewaktu waktu bisa memicu kebakaran sosial dan politik.”

Mengapa Pemerintah Membuka Pintu Izin Tambang Ormas Keagamaan

Pemerintah memasarkan kebijakan izin tambang ormas keagamaan sebagai bagian dari strategi pemerataan ekonomi dan penguatan peran masyarakat sipil dalam pengelolaan sumber daya alam. Ormas keagamaan yang memiliki jaringan luas hingga ke desa desa dianggap mampu menjadi jembatan antara negara dan warga, sekaligus memastikan manfaat tambang lebih langsung dirasakan komunitas di sekitar lokasi.

Alasan lain yang sering muncul adalah kebutuhan untuk mengurangi ketimpangan penguasaan tambang oleh segelintir perusahaan besar. Dengan melibatkan ormas keagamaan, pemerintah berharap tercipta model distribusi keuntungan yang lebih sosial, misalnya untuk membiayai pendidikan, layanan kesehatan, kegiatan sosial, hingga program pemberdayaan ekonomi umat.

Lumpur Lapindo 18 Tahun Nasib Korban dan Lingkungan Kini

Namun para pengkritik menilai, ada motif politik yang tidak bisa diabaikan. Di tengah menguatnya polarisasi dan rivalitas politik, kedekatan dengan ormas keagamaan besar menjadi modal penting bagi siapa pun yang ingin menjaga pengaruh di akar rumput. Kebijakan ini, bagi sebagian kalangan, dipandang sebagai cara “merangkul” dan mengikat dukungan ormas melalui jalur ekonomi, bukan sekadar melalui simbol dan retorika.

Risiko Politik dalam Izin Tambang Ormas Keagamaan

Ketika izin tambang ormas keagamaan masuk ke ranah politik, kekhawatiran langsung mengarah pada potensi politisasi rumah ibadah, ceramah, dan jaringan sosial berbasis agama. Ormas yang mengelola tambang berpotensi memiliki sumber dana baru yang besar dan relatif mandiri, yang kemudian dapat mengalir ke kegiatan politik, baik secara langsung maupun terselubung.

Di satu sisi, ormas memang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi. Namun ketika sumber dananya berasal dari sektor yang sarat konflik kepentingan seperti tambang, garis batas antara kegiatan sosial keagamaan dan agenda politik bisa makin kabur. Kekhawatiran lain adalah persaingan antar ormas yang bisa memicu ketegangan horizontal, terutama jika alokasi WIUPK dinilai tidak adil atau terlalu menguntungkan kelompok tertentu.

Selain itu, hubungan antara kepala daerah, aparat birokrasi, dan ormas pemegang izin tambang bisa berubah menjadi patronase baru. Dukungan politik bisa berbalas kemudahan perizinan, pembiaran pelanggaran lingkungan, atau kompromi terhadap protes masyarakat lokal. Di titik ini, prinsip tata kelola yang bersih dan akuntabel bisa tergerus oleh kalkulasi elektoral jangka pendek.

Tantangan Tata Kelola dan Pengawasan Izin Tambang Ormas Keagamaan

Tantangan terbesar dalam izin tambang ormas keagamaan adalah memastikan tata kelola yang transparan dan pengawasan yang efektif. Sektor pertambangan sudah lama dikenal sebagai ladang subur bagi praktik korupsi, manipulasi data produksi, hingga penghindaran kewajiban pajak dan royalti. Memasukkan ormas ke dalam lanskap yang rumit ini tanpa penguatan kapasitas dan pengawasan berarti menambah aktor, bukan menyelesaikan masalah.

Milenial dan Gen Z Terjerat Utang Pinjol, Waspada!

Secara teknis, pemerintah harus memastikan setiap izin tambang ormas keagamaan terikat pada rencana kerja dan anggaran biaya yang jelas, termasuk rencana reklamasi dan pasca tambang. Pelaporan produksi, pembayaran kewajiban ke negara, serta pelaksanaan program tanggung jawab sosial harus dapat diaudit secara berkala. Tantangan muncul ketika ormas memiliki basis massa kuat dan kedekatan dengan elite politik, yang bisa membuat aparat enggan bertindak tegas.

Di sisi lain, lembaga pengawas seperti inspektur tambang, aparat penegak hukum, dan auditor negara sering kali menghadapi keterbatasan sumber daya. Ketika jumlah pemegang izin bertambah, sementara kapasitas pengawasan tidak diperkuat signifikan, celah untuk pelanggaran akan semakin lebar. Transparansi publik melalui keterbukaan data menjadi kunci, namun ini masih jauh dari ideal.

Potret Kekhawatiran Lingkungan di Balik Izin Tambang Ormas Keagamaan

Isu lingkungan menjadi salah satu sorotan paling keras dalam perdebatan izin tambang ormas keagamaan. Pengalaman puluhan tahun menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan sering meninggalkan jejak kerusakan serius, mulai dari deforestasi, pencemaran sungai, lubang tambang menganga, hingga hilangnya ruang hidup satwa dan masyarakat adat. Pertanyaannya, apakah ormas keagamaan siap memikul tanggung jawab ekologis sebesar itu.

Dalam banyak ajaran agama, menjaga alam dipandang sebagai amanah moral dan spiritual. Namun ketika berhadapan dengan potensi keuntungan finansial yang besar, idealisme sering kali diuji. Ormas yang sebelumnya vokal mengkritik kerusakan lingkungan bisa tergoda untuk menoleransi praktik yang sama ketika mereka berada di sisi pelaku. Konflik kepentingan ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap suara moral yang selama ini diklaim.

Di lapangan, masyarakat sekitar tambang kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Banjir, longsor, air sumur yang tercemar, hingga hilangnya mata pencaharian tradisional seperti bertani dan menangkap ikan adalah cerita berulang di banyak daerah tambang. Jika konflik lingkungan ini kemudian dibungkus dengan identitas keagamaan karena pemegang izinnya adalah ormas keagamaan, potensi gesekan sosial bisa meningkat dan menjadi lebih sulit diselesaikan.

Peluang Kesejahteraan dari Izin Tambang Ormas Keagamaan

Meski sarat risiko, tidak bisa dipungkiri bahwa izin tambang ormas keagamaan juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan jika dikelola dengan benar. Ormas yang memiliki komitmen kuat pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi bisa menjadikan hasil tambang sebagai sumber dana berkelanjutan untuk program sosial. Ini berbeda dengan pola lama di mana keuntungan tambang lebih banyak mengalir ke kantong pemegang saham dan elite.

Model ideal yang dibayangkan adalah ormas mengalokasikan sebagian besar keuntungan untuk beasiswa, pembangunan sekolah dan rumah sakit, pelatihan keterampilan, hingga dukungan bagi usaha kecil di sekitar wilayah tambang. Dengan jaringan yang sudah mengakar, ormas berpotensi lebih memahami kebutuhan riil masyarakat dan menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran.

Namun untuk mencapai model ideal ini, diperlukan komitmen kuat terhadap transparansi. Laporan keuangan harus terbuka, mekanisme partisipasi anggota dan masyarakat harus berjalan, dan keputusan strategis tidak boleh hanya dipegang segelintir elite organisasi. Tanpa itu, peluang kesejahteraan bisa berubah menjadi sumber kekecewaan baru ketika publik merasa hanya menjadi penonton.

“Pertanyaan utamanya bukan sekadar boleh atau tidak ormas mengelola tambang, tetapi apakah kita memiliki sistem yang cukup kuat untuk memastikan kekuasaan ekonomi baru ini tidak menyimpang dari tujuan sosial yang dijanjikan.”

Menakar Kesiapan Ormas Mengelola Izin Tambang Ormas Keagamaan

Kesiapan ormas keagamaan menjadi faktor penentu apakah kebijakan ini akan menjadi berkah atau bumerang. Banyak ormas memiliki pengalaman panjang dalam mengelola lembaga pendidikan, rumah sakit, hingga usaha ekonomi seperti koperasi dan BUMM. Namun mengelola tambang adalah level yang berbeda, dengan kompleksitas teknis, finansial, dan regulasi yang jauh lebih tinggi.

Ormas perlu membangun kapasitas kelembagaan yang memadai, mulai dari manajemen risiko, pemahaman hukum pertambangan, hingga kemampuan negosiasi dengan mitra usaha. Tanpa itu, mereka rentan menjadi “penyewa nama” sementara kendali riil tetap dipegang perusahaan yang sudah berpengalaman. Risiko lainnya adalah konflik internal ketika sebagian pengurus melihat tambang sebagai sumber kekuasaan dan privilese baru.

Selain aspek teknis dan manajerial, kesiapan etis juga penting. Ormas dituntut konsisten antara ajaran yang disampaikan di mimbar dan praktik di lapangan. Ketika mereka terlibat dalam aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan atau menyingkirkan masyarakat lokal, legitimasi moral yang selama ini menjadi kekuatan utama bisa tergerus. Di titik ini, publik akan menilai, apakah ormas benar benar menjadi pelaku ekonomi yang berkeadilan atau justru menambah daftar pemain lama dengan wajah baru.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *